Sejumlah komentar bahkan menyebut Pantai Bandealit kini "tidak direkomendasikan" untuk dikunjungi karena persoalan tarif ini.
"Saya hari ini tgl 1 Januari 2026 sekeluarga ke pantai Bandealit bawa rombongan dengan mobil 6 orang sepeda motor 2 orang. Tarif karcis masuk kami kena 150 ribu, terus terang SANGAT MAHAL & TIDAK RECOMENDED," ungkap akun @HandrisSetiawan.
"Mohon maaf kepada pengelola pantai wisata, mohon dteribkan masalah karcisnya. Di karcis resmi tertulis cuman 6.000 kenyataan dipermainkan harganya. Harga tiket masuk mahal tapi lihat fasilitas jalannya jelek sekali. KAMI SANGAT KECEWA dengan pengelolaan wisatanya yang aangat tidak sesuai dengan infrastruktur yang memadai," tandasnya.
Bukan hanya wisatawan luar daerah, warga sekitar yang hendak melintas atau menghadiri acara keluarga di area sekitar pantai juga mengaku tetap diminta membayar karcis masuk dengan nominal tinggi.
"Kemaren saya ke bandialet mau ke rumah Abah saya karena ada acara khitanan, tapi malah sama tukang karcis di tarik juga. Saya bilang saya mau acara khitanan di rumah Abah saya di dan mereka bilang suruh bayar karcis karena saya masuk lokasi wisata ke pantai Bandealit," ungkap akun @AdeRama.
"Akhirnya disuruh bayar 80 ribu untuk 4 orang. Istri saya kaget karena biasanya masuk wisata pantai sini cuman 5 ribu kadang saya gak bayar, soalnya Abah saya orang asli sini rumahnya dekat Bandelait, trus petugas bilang itu dulu kalau sekarang peraturannya beda," tuturnya.
Sejumlah curhatan warganet ini mendapat sorotan tajam dan semakin memantik kecurigaan publik bahwa ada dugaan praktik pungutan yang tidak sesuai aturan.
Selain melalui Facebook, video keluhan pengunjung juga beredar di Instagram. Salah satu video memperlihatkan seorang pengunjung yang memprotes tarif masuk yang dinilai tidak sesuai dengan karcis resmi.
Dalam rekaman tersebut, seorang pria yang diduga sebagai petugas lapangan berusaha memberikan penjelasan bahwa tarif HTM tersebut cukup mahal karena area wisata masuk ke kawasan hutan lindung Taman Nasional Meru Betiri.
Namun, penjelasan tersebut tetap memunculkan tanda tanya besar di kalangan masyarakat. Banyak yang menilai alasan tersebut tidak cukup jelas, terutama karena terdapat perbedaan harga sangat jauh antara tarif yang tertera di karcis dengan biaya yang dibebankan kepada pengunjung.
Ramainya keluhan ini membuat warganet mendesak pihak pengelola wisata dan instansi terkait untuk turun tangan menyelidiki adanya dugaan praktik pungli di Pantai Bandealit.
Publik berharap ada kejelasan dari pemerintah setempat terkait tarif resmi dan menindak tegas jika terbukti ada oknum yang memanfaatkan situasi ini untuk keuntungan pribadi.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Viral Dugaan Pungli Kepala Sekolah Minta Orang Tua Beli Tempat Makan untuk Program Makan Gratis Pemerintah, Gercep Direspons Gerindra
Bupati Jember Gus Fawait Pastikan Kebijakan Pro Rakyat, Mulai Cegah Pungli Penerimaan Siswa Baru, Retribusi Parkir hingga Underpass
Kecewa, Pengunjung Keluhkan Pembayaran HTM Pantai Papuma Jember yang Dinilai Janggal, Desak Pihak Pengelola Selidiki Dugaan Pungli di Lokasi Wisata
Waduh! Aksi Curanmor Nyaris Terjadi di Lokasi Wisata Pantai Papuma Jember, Terduga Pelaku Berhasil Diamankan Polisi Setelah Jadi Sasaran Amukan Massa
Integrasi Tiket Masuk Dua Wisata, Watu Ulo-Papuma Jember Dipastikan Permanen
Apresiasi Kebijakan Pemkab Jember, Wisatawan Asal Lumajang Sebut Masih Banyak yang Harus Dikembangkan