Musibah banjir kali ini meninggalkan pesan bahwa sifat tolong-menolong masyarakat Indonesia masih tetap lestari sampai sekarang.
“Banjir 2025 menegaskan lagi bahwa masyarakat adalah garda tolong menolong pertama, jauh sebelum bantuan besar tiba,” ujarnya.
Masyarakat Aceh yang sudah dihantam bencana besar sebanyak dua kali ini nyatanya masih memiliki daya juang untuk bertahan hidup.
“Dan orang Aceh punya ingatan panjang tentang bertahan. Gelombang menghantam dalam rupa yang berbeda, tetapi daya juang selalu bangkit dengan ketegaran yang sama,” ungkapnya.
Tugas dan tanggung jawab yang kian berat menggerakkan hati untuk bertindak lebih cepat dan tepat dalam mengatasi bencana.
“Menyingkap yang luput agar negara bergerak lebih cepat, tanggung jawab publik tetap menyala dan yang terdampak sungguh terhubung dengan mereka yang bergerak,” imbuhnya.
Tugas media dan pemerintah saat ini adalah tetap objektif dan tidak mudah memprovokasi agar tidak semakin memperkeruh suasana.
“Mengawasi bukan untuk memprovokasi, melainkan menjaga ingatan, agar pengalaman warga tak hilang ditelan arus,” tutupnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Zaskia Adya Mecca Mengaku Tidak Bisa Diam dan Santai Melihat Korban Bencana Banjir di Sumatra: Gelisah, Rasanya Harus Gerak dan Hadir
Curhatan Zikri Daulay Soal Bencana Banjir Bandang yang Melanda Aceh, Kenang Trauma Masa Kecilnya Saat Kena Tsunami
ICMI Orda Jember Kirim Bantuan ke Sumatera lewat PMI, Donasi Rp10 Juta Disalurkan untuk Korban Banjir dan Longsor
135 Rumah Terdampak Banjir Luapan di Kecamatan Gumukmas Jember, Ketinggian Air Sempat Capai 70 Centimeter
Ferry Irwandi Disentil Endipat Wijaya Usai Galang Donasi Rp10 M untuk Korban Banjir Sumatra, Siapa Dia?