Kamis, 4 Juni 2026

‘Gunung Menangis’ di Sembalun Jadi Sorotan: Hujan 2 Jam Memicu Luapan Sungai, Sawah Terendam, dan Kekhawatiran Bencana Lama Kembali Terbuka

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Rabu, 10 Desember 2025 | 18:45 WIB
Air terjun dadakan di lereng Bukit Sembalun, Lombok Timur yang memicu kekhawatiran warga terhadap bencana banjir bandang.  (Instagram.com/@tante.rempong))
Air terjun dadakan di lereng Bukit Sembalun, Lombok Timur yang memicu kekhawatiran warga terhadap bencana banjir bandang. (Instagram.com/@tante.rempong))

Namun, kali ini volumenya jauh lebih besar sehingga mendapat perhatian luas. Menurutnya, banyak orang menyebut fenomena ini sebagai gunung menangis karena aliran air terlihat jelas dari kejauhan.

Air yang turun dari perbukitan itu juga menyebabkan debit sungai meningkat cukup cepat. Beberapa lahan pertanian ikut terendam akibat luapan air.

Menurut penjelasan Rijal, sekitar tiga hektare sawah mengalami dampak langsung. Hujan yang berlangsung sekitar dua jam itu dinilai memicu aliran deras menuju lahan dan sungai.

Ia kemudian menyebut beberapa faktor yang memicu banjir di wilayah tersebut. Rijal menilai intensitas hujan tinggi menjadi penyebab utama.

Ia juga menilai alih fungsi lahan untuk vila dan perkebunan ikut memperparah daya tampung tanah di kawasan itu.

Fenomena air terjun dadakan ini mengingatkan warga pada banjir bandang besar pada 2012. Pada saat itu, seribu lebih warga harus diungsikan dari pemukiman mereka.

Desa Belanting menjadi kawasan paling terdampak karena diterjang air bah dari Sungai Putik. Beberapa desa lain di kaki Gunung Rinjani juga mengalami hal serupa dan harus melakukan evakuasi warga.

Banjir besar tersebut bersumber dari luapan sungai yang berhulu di Danau Segara Anak. Peristiwa itu membuat ratusan warga di Desa Sembalun Bumbung dan Sembalun Lawang harus dipindahkan.

Kejadian lama itu kini kembali diingat warga setelah kemunculan fenomena gunung menangis di Sembalun hari ini. ***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X