Kamis, 4 Juni 2026

Semeru Masuk Fase Stabil dan Status Diturunkan: Penjelasan Lengkap Badan Geologi dan Rangkuman Risiko Vulkanik yang Masih Terpantau

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Minggu, 30 November 2025 | 20:30 WIB
Ilustrasi - Gunung Semeru pasca erupsi yang meninggalkan pesan misterius sekaligus peringatan bagi manusia. (X/pvmbg_)
Ilustrasi - Gunung Semeru pasca erupsi yang meninggalkan pesan misterius sekaligus peringatan bagi manusia. (X/pvmbg_)

SketsaNusantara.id - Status Gunung Semeru resmi diturunkan dari Level IV menjadi Level III pada 29 November 2025.

Keputusan ini diambil setelah Badan Geologi menilai adanya penurunan aktivitas vulkanik yang cukup signifikan. Informasi tersebut disampaikan melalui rangkaian evaluasi yang dilakukan pascaerupsi besar pada pertengahan November.

Penetapan ini membawa harapan bagi warga Lumajang yang selama beberapa hari menghadapi peningkatan aktivitas gunung.

Baca Juga: Dukungan Kemanusiaan Mengalir, PMI Jember dan Jejaring PMI Wilayah III Turun Tangan Bantu Korban Erupsi Semeru

Kondisi wilayah di sekitar Semeru berangsur stabil sehingga pemerintah dapat menyesuaikan langkah mitigasi. Meski begitu, kondisi gunung tetap dipantau secara ketat oleh tim pengamatan.

Penilaian penurunan status dilakukan setelah melihat data visual, kegempaan, deformasi, dan pemantauan instrumen lain.

Aktivitas Semeru tercatat melemah setelah erupsi pada 19 November 2025 yang menghasilkan awan panas sejauh 13,8 kilometer. Pola kegempaan dalam beberapa hari terakhir juga tidak menunjukkan adanya tekanan magmatik baru.

Baca Juga: Erupsi Belum Mereda, Semeru Catat Aktivitas Kegempaan Tinggi dan Radius Steril 8 Km saat Pengungsi Bersiap Kembali ke Sekolah

Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa suplai magma dari kedalaman tidak terdeteksi pada fase ini.

“Aktivitas Semeru saat ini masih berupa letusan kecil–menengah, guguran lava, serta pelepasan gas dangkal. Data kegempaan juga menunjukkan tidak ada peningkatan tekanan magmatik,” dikutip dari Lumajangkab.go.id.

Pernyataan tersebut menjadi dasar ilmiah utama dalam penurunan tingkat aktivitas.

Data seismik menunjukkan perubahan yang konsisten dengan fase stabil. Variasi kecepatan seismik yang sempat turun sebelum erupsi kini kembali normal. Instrumen seperti tiltmeter dan GPS tidak memperlihatkan pergerakan permukaan yang mengarah pada suplai magma baru.

Indikasi ini dinilai cukup kuat untuk menentukan bahwa sistem vulkanik sedang berada dalam fase relaksasi.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: lumajangkab.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X