Ia mencontohkan situasi di Tapanuli Tengah dan Sibolga, di mana dalam empat hari tercatat lebih dari 800 mm hujan, bahkan beberapa titik mencapai lebih dari 300 mm dalam satu hari, angka yang disebutnya berada jauh di atas desain normal ekstrem dalam kajian hidrologi Sumut.
Ferry juga menyoroti bahwa cuaca ekstrem ini diperparah oleh kerusakan lingkungan yang sudah terjadi bertahun-tahun.
“Hutan di Tapanuli dan Batang Toru rusak, tanah gak bisa tahan air,” tuturnya. Hal ini yang membuat hujan ekstrem sangat mudah berubah menjadi banjir bandang.
Selain membawa lumpur dan massa air besar, banjir juga menyeret gelondongan kayu yang menunjukkan betapa parahnya deforestasi yang terjadi.
Lereng-lereng yang gundul mempercepat potensi longsor sehingga banyak wilayah pegunungan mengalami titik rawan yang runtuh serentak.
Ferry menyimpulkan bahwa situasi tersebut adalah bentuk nyata dari bencana ekologis, gabungan antara cuaca ekstrem dan ekosistem yang rusak.
Selain faktor alam dan kerusakan lingkungan, ia menilai bahwa buruknya tata ruang makin memperbesar skala kerusakan.
Pembangunan permukiman di bantaran sungai, pemukiman di lereng-lereng rawan longsor, sistem drainase kota yang tidak memadai, serta pembukaan lahan tanpa kontrol membuat hujan yang seharusnya masih bisa ditangani justru berubah menjadi bencana besar.
Ia menyebut bahwa pola tata ruang seperti itu membuat banyak daerah tidak mampu menahan limpahan air dalam jumlah besar.
Ferry kemudian mengulas wilayah yang paling terdampak, dimulai dari Sumatera Utara yang ia sebut sebagai pusat kerusakan terparah.
Dalam laporannya, wilayah ini mengalami gangguan di 14 kabupaten/kota, termasuk Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga.
Data sementara menunjukkan 62 korban meninggal, lebih dari 2.000 rumah terdampak, serta putusnya akses penting seperti Jalan Lintas Sumatra dan sejumlah jembatan besar.
Di beberapa lokasi, akses komunikasi bahkan masih putus total, sehingga proses evakuasi dan pendataan sulit dilakukan.
Aceh menjadi wilayah dengan dampak banjir paling masif. Ferry mencatat bahwa 16 kabupaten/kota terdampak, dengan titik terparah ada di Aceh Timur yang mencatat 29.706 jiwa terdampak dan 7.972 rumah terendam, serta Aceh Singkil dengan 25.827 jiwa terdampak dan lebih dari 6.000 rumah terendam.
Di Aceh Tamiang, ribuan warga terpaksa mengungsi. Total korban meninggal di Aceh tercatat mencapai 30 orang.
Artikel Terkait
Cobaan Jelang Nikah, El Rumi Klarifikasi Usai Tak Sengaja Like Postingan Mantan, Sikapnya Lindungi Syifa Hadju dari Serangan Haters Banjir Pujian
Marissa Anita Siap Melangkah ke Tahap Hidup Baru dan Lakukan Persiapan Khusus saat Hadapi Proses Cerai dengan Andrew Trigg, Ketegarannya Banjir Pujian
Ernest Prakasa Rayakan Ulang Tahun ke-16 Putrinya, Sky Solana: Ungkapan Haru, Doa, dan Banjir Ucapan dari Publik Figur
Gempita Nora Marten Raih Piala AMI Awards 2025 di Usia 10 Tahun: Prestasi Membanggakan yang Banjir Doa dan Pujian
Habis Biaya Berapa? Surya Insomnia Banjir Pujian Usai Turun Tangan Langsung Tambal Jalan Berlubang di Tangsel, Andre Taulany: Inisiatif Luar Biasa!
Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Longsor di Sumatera Utara, Jalur Darat Lumpuh dan BNPB Targetkan Pembukaan Akses dalam 1–2 Hari