"Saling tukar ide dan kadang berantem sepakat ga sepakat gitu,"
"Untungnya tim kami tim kecil, ada 5 orang, aku (Alvina), Wahyu AO, Jati Pramudya, Beni Kusuma, dan Thalia Silfiana," imbuhnya.
Sebagaimana banyak produksi independen lainnya, kendala utama muncul dari keterbatasan alat dan dana.
Kendati demikian, Vina dan timnya berhasil menyiasati hal tersebut.
“Keterbatasan alat dan anggaran yang ngepres banget. Tapi itu berhasil kami handle, kami tetap urun daya masing-masing orang,” ucapnya.
Sebagai anak muda Trenggalek, ia merasa punya tanggung jawab untuk mendokumentasikan gerakan perlawanan masyarakat terhadap tambang emas.
Vina menyebut bahwa gerakan tersebut memiliki kekhasan tersendiri.
“Di Trenggalek ini kami bergerak menolak sebelum tambang beroperasi. Kami berusaha memagari apa yang kami punya. Itu yang ingin saya dokumentasikan,” katanya.
Melalui film ini, Vina ingin menegaskan posisi warga Trenggalek yang terus berjuang menjaga wilayahnya dari ancaman perusakan lingkungan.
“Kami warga Trenggalek akan selalu berada di garis depan untuk memperjuangkan dan melindungi ruang hidup kami dari segala ancaman perusakan lingkungan, terutama ancaman tambang emas Trenggalek,” tegasnya.
Sejak dirilis, film ini telah diputar secara independen, baik di lingkup kolektif maupun akademis.
Peluncuran film ini, menurut Vina, telah terlihat adanya pergerakan positif di tingkat warga meskipun cukup sulit mengukur perubahan secara konkret.