Kamis, 4 Juni 2026

Erupsi Semeru Masih Aktif 36–45 Kali per 12 Jam, Warga Diminta Jauhi Zona Merah karena Ancaman Lahar Dingin

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 22 November 2025 | 16:30 WIB
Erupsi Semeru pada Rabu, 19 November 2025. (X @KPHYudi)
Erupsi Semeru pada Rabu, 19 November 2025. (X @KPHYudi)

SketsaNusantara.id - Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur masih berada pada status Level IV atau Awas.

Aktivitas vulkanik yang meningkat sejak erupsi besar pada 19 November 2025 membuat wilayah di sekitar gunung ini tetap dalam pembatasan ketat. Warga yang sebelumnya terdampak kini berada di zona aman sesuai arahan petugas.

Kondisi erupsi yang tidak stabil membuat pemantauan terus dilakukan setiap waktu. Material vulkanik masih muncul dari kawah dengan intensitas yang tinggi.

Baca Juga: Naikkan Status Awas, Badan Geologi Larang Keras Masyarakat Sekadar Ambil Konten di Radius 8 km Puncak Gunung Semeru

Situasi ini menjadi dasar pemerintah untuk mempertahankan status Awas. Risiko tambahan seperti lahar dingin juga mulai diperhitungkan akibat curah hujan yang meningkat dalam dua hari terakhir.

PVMBG memastikan zona larangan tetap diberlakukan. Pembatasan radius bahaya masih menjadi prioritas utama agar warga maupun penambang tidak memasuki area rawan.

Kepala PVMBG, Priatin Hadi Wijaya menegaskan, “Status masih level 4 dan rekomendasi masih di radius 8 kilometer, dan yang sektoral ke arah tenggara selatan 20 kilometer,” ujarnya.

Baca Juga: Beneran atau Cuma Settingan? Heboh Beredar Video Warga Kerasukan Pasca Lumajang Diterjang Awan Panas, Pesan Misterius 'Penunggu' Semeru Jadi Sorotan

Hadi menjelaskan, wilayah tersebut bisa saja diperluas jika kondisi di puncak mengalami perubahan.

Evaluasi akan terus dilakukan oleh tim pengamat di lapangan. Ia menyampaikan bahwa pemantauan real time dilakukan terhadap 69 gunung api aktif di Indonesia, dan Semeru menjadi satu-satunya gunung yang berada pada Level IV.

Selain itu, Merapi dan Lewotobi Laki-laki masih berada pada Level III atau Siaga. Hadi menyebut laporan rutin disampaikan setiap enam jam untuk gunung yang berada pada status Siaga hingga Awas.

Kontrol terhadap perubahan aktivitas dilakukan untuk memastikan informasi cepat tersampaikan ke masyarakat.

Risiko berikutnya datang dari potensi banjir lahar dingin. Material vulkanik yang terus terakumulasi dapat bergerak saat turun hujan deras. PVMBG mencatat erupsi masih terjadi sekitar 36 hingga 45 kali dalam 12 jam terakhir.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X