Kamis, 4 Juni 2026

Ratusan Pengurus OSIS Bakal Jadi Agen Perubahan, Perang Melawan Pernikahan Dini dan Stunting

Photo Author
M Purnomo, Sketsa Nusantara
- Selasa, 11 November 2025 | 15:57 WIB
Ratusan pengurus OSIS dari 175 sekolah SMA sederajat di Jember ikuti sosialisasi pencegahan pernikahan dini (M Purnomo/SketsaNusantara.id)
Ratusan pengurus OSIS dari 175 sekolah SMA sederajat di Jember ikuti sosialisasi pencegahan pernikahan dini (M Purnomo/SketsaNusantara.id)

SketsaNusantara.id - Pemerintah Kabupaten Jember mengambil langkah strategis dengan menempatkan isu pernikahan dini dan stunting sebagai prioritas utama.
Inisiatif ini bertujuan untuk membentuk Generasi Emas Jember yang unggul, sehat, cerdas, dan produktif di masa depan.

Upaya pencegahan tersebut disosialisasikan langsung kepada ratusan pelajar, khususnya pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), yang diharapkan menjadi ujung tombak perubahan.

Dalam acara bertajuk Sosialisasi Pencegahan Pernikahan Dini dan Stunting yang digelar di Aula Dinas Pendidikan pada Selasa, 11 November 2025.

Baca Juga: RAPBD 2026 Jember Dipangkas Ratusan Miliar, Bupati Gus Fawait Fokus Gunakan Bantuan Pusat untuk Pembangunan Daerah

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Jember, Edy Budi Susilo, menyampaikan pesan penting untuk ikut serta membangun potensi Jember.

Selain itu, ia menekankan bahwa meski generasi muda Jember memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pemimpin dan pendorong kemajuan daerah, potensi tersebut bisa terhambat oleh bahaya pernikahan dini dan stunting.

"Anak-anak ini akan menjadi motor penggerak dan pemimpin masa depan. Potensi itu hanya bisa terwujud jika mereka tumbuh sehat, cerdas, dan mampu berkarya," ujarnya.

Baca Juga: Dana Transfer Pusat ke Daerah Berkurang, Pemkab Jember: APBD 2026 Difokuskan ke Program Prioritas

Menurut Edy Budi Susilo, pernikahan dini bukanlah semata soal usia, melainkan mencakup ketidaksiapan dari segi mental, fisik, dan sosial.

Remaja yang terburu-buru menikah cenderung belum siap memikul tanggung jawab orang tua, yang pada akhirnya dapat membahayakan kesehatan ibu dan anak.

Edy menjelaskan bahwa minimnya kesiapan ini secara langsung meningkatkan risiko kehamilan bermasalah, yang kemudian berdampak pada peluang anak yang dilahirkan mengalami stunting.

Baca Juga: Jamin Kesejahteraan Masyarakat dari Berbagai Lini, Pemkab Jember Juga Pastikan Pelayanan Kesehatan dan Infrastruktur Jalan

Hal ini karena kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis selama periode 1.000 hari pertama kehidupan. Oleh karena itu, memerangi pernikahan dini juga berarti memutus mata rantai kemiskinan antar generasi.

Meskipun Jember mencatat adanya tren penurunan kasus pernikahan dini, Edy Budi Susilo mengungkapkan keprihatinan atas kasus-kasus yang masih terjadi di lapangan.

Pemerintah Kabupaten Jember pun secara tegas menunjuk pengurus OSIS dari 175 SMA/SMK/MA yang hadir sebagai garda terdepan dalam kampanye pencegahan ini.'

Halaman:

Editor: Angga Juli Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X