Minggu, 19 Juli 2026

2 Kali Dilantik Jadi Raja, Inilah Kisah Pahit Sri Sultan Hamengku Buwono III di Tengah Perebutan Jawa

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Rabu, 5 November 2025 | 18:00 WIB
Potret Sri Sultan Hamengku Buwono III. (kratonjogja.id)
Potret Sri Sultan Hamengku Buwono III. (kratonjogja.id)

Pada 21 Juni 1812, HB II dilengserkan, dan RM Surojo sekali lagi naik takhta sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono III untuk kedua kalinya.

Kelahiran Pangeran Diponegoro dan Perubahan Peta Yogyakarta

Pada masa yang sama, putra sulung Sultan HB III dari garwa selir, RM Antawirya, menerima gelar Bendara Pangeran Ario Diponegoro.

Meski lahir dari garis bangsawan, Pangeran Diponegoro memilih hidup di luar keraton. Ia menetap di Tegalrejo bersama neneknya untuk memperdalam ilmu agama.

Dikenal keras dan pantang tunduk pada bangsa asing, kelak ia memimpin Perang Jawa (1825–1830) yang menjadi salah satu perlawanan terbesar terhadap Belanda.

Kedatangan Inggris juga mengubah peta geopolitik Kasultanan Yogyakarta. Sultan harus menyerahkan beberapa wilayah penting, termasuk Kedu, Japan, dan separuh Pacitan. Inggris memberikan ganti rugi sebesar 100.000 real per tahun.

Selain itu, Sultan menyerahkan 4000 cacah wilayah Adikarto kepada Pangeran Notokusumo dan 1000 cacah lagi kepada Kapiten Cina Tan Jin Sing, yang kemudian bergelar KRT Secadiningrat dan menjabat Bupati Yogyakarta.

Larangan Militer dan Penderitaan Prajurit Keraton

Salah satu kebijakan paling berdampak pada masa Inggris adalah pelarangan raja memiliki pasukan bersenjata. Inggris menempatkan tentaranya sendiri, termasuk pasukan Sepoy dari India, untuk menjaga keamanan istana.

Akibatnya, lebih dari 9000 prajurit keraton kehilangan penghidupan. Banyak di antara mereka kemudian dipaksa bekerja di perkebunan kolonial di luar Jawa.

“Sejak itu, keraton kehilangan kekuatan militernya,” tercatat dalam arsip kolonial Inggris. Situasi tersebut menjadi awal dari menurunnya kedaulatan politik Kasultanan Yogyakarta di bawah pengaruh kolonial.

Akhir Pemerintahan dan Warisan Sejarah

Sri Sultan Hamengku Buwono III wafat pada 3 November 1814 dalam usia 45 tahun. Ia dimakamkan di Astana Kasuwargan, Pajimatan, Imogiri. Pemerintahannya hanya berlangsung 865 hari, namun meninggalkan jejak bersejarah.

Salah satu peninggalan penting masa pemerintahannya adalah pembangunan Kampung Ketandan, yang kini dikenal sebagai pusat budaya Tionghoa Yogyakarta.

Di kawasan ini, Sultan menunjuk Tan Jin Sing sebagai penasihat pribadi dan pejabat pemungut pajak.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: kratonjogja.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X