SketsaNusantara.id - Taman Nasional Meru Betiri kembali sukses menggelar kegiatan tahunan Meru Betiri Service Camp (MBSC) Batch XXVI, program pendidikan konservasi yang bertujuan mencetak kader-kader konservasi tingkat pemula dari berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung selama 6 hari, mulai Senin, 29 September hingga Sabtu, 4 Oktober 2025 ini, merupakan hasil kolaborasi antara Balai Taman Nasional Meru Betiri dan Wadah Informasi Pecinta Alam Se Eks-Karesidenan Besuki (WIPAB).
Kegiatan ini diikuti oleh 55 peserta terpilih yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa pecinta alam, penggiat lingkungan, hingga akademisi dan wisatawan mancanegara.
Menariknya, MBSC XXVI diwarnai oleh kehadiran peserta dari luar pulau seperti Ketut Resmi Ratnadi dari MPA Lokasamgraha (Bali), Imam Muhibuttobri dari PMPA Astacala (Bandung), dan bahkan pasangan suami istri yakni Dr. Susintowati, S.Si., M.Sc dosen Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi dan Mr. Hans Lamal, pensiunan asal Belgia.
Kepanitiaan MBSC tahun ini diketuai oleh Ahmad Yogi Fatahillah dari organisasi HIMAPALA BEKISAR Politeknik Negeri Jember.
Panitia yang tergabung berasal dari berbagai organisasi pecinta alam di wilayah Jember, Banyuwangi, dan Bondowoso.
Rangkaian Kegiatan MBSC XXVI
MBSC XXVI dimulai dengan pelepasan peserta oleh Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri di kantor Balai TNMB.
Acara ini dilanjutkan dengan perjalanan ke Resort Sukamade untuk pembukaan resmi.
Peserta kemudian mengikuti serangkaian agenda edukatif yang berlangsung hingga hari Kamis, 2 Oktober, mencakup materi konservasi dari para ahli seperti ranger TNMB, akademisi, serta aktivis dari organisasi lingkungan seperti Birdpacker, Yayasan Sintas Indonesia, dan WALHI Jawa Timur.
Salah satu momen paling berkesan terjadi pada 1 Oktober, ketika peserta diajak mengamati proses penyu bertelur di pantai Sukamade.
Keesokan harinya, peserta turut melepas sekitar 550 tukik (anak penyu) ke laut lepas.