Kamis, 4 Juni 2026

Meru Betiri Service Camp Batch XXVI: Edukasi Konservasi hingga Lepas 550 Tukik

Photo Author
Qorry 'Aina Damayanti, Sketsa Nusantara
- Minggu, 5 Oktober 2025 | 19:30 WIB
Meru Betiri Service Camp Batch XXVI (SketsaNusantara.id/Qorry 'Aina)
Meru Betiri Service Camp Batch XXVI (SketsaNusantara.id/Qorry 'Aina)

SketsaNusantara.id - Taman Nasional Meru Betiri kembali sukses menggelar kegiatan tahunan Meru Betiri Service Camp (MBSC) Batch XXVI, program pendidikan konservasi yang bertujuan mencetak kader-kader konservasi tingkat pemula dari berbagai daerah di Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung selama 6 hari, mulai Senin, 29 September hingga Sabtu, 4 Oktober 2025 ini, merupakan hasil kolaborasi antara Balai Taman Nasional Meru Betiri dan Wadah Informasi Pecinta Alam Se Eks-Karesidenan Besuki (WIPAB).

Kegiatan ini diikuti oleh 55 peserta terpilih yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa pecinta alam, penggiat lingkungan, hingga akademisi dan wisatawan mancanegara.

Baca Juga: 4 Fakta TN Tesso Nilo di Riau, Kawasan Konservasi Gajah yang Tergerus Sawit, Ternyata Habitat Potensial Harimau Sumatera!

Menariknya, MBSC XXVI diwarnai oleh kehadiran peserta dari luar pulau seperti Ketut Resmi Ratnadi dari MPA Lokasamgraha (Bali), Imam Muhibuttobri dari PMPA Astacala (Bandung), dan bahkan pasangan suami istri yakni Dr. Susintowati, S.Si., M.Sc dosen Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi dan Mr. Hans Lamal, pensiunan asal Belgia.

Kepanitiaan MBSC tahun ini diketuai oleh Ahmad Yogi Fatahillah dari organisasi HIMAPALA BEKISAR Politeknik Negeri Jember.

Panitia yang tergabung berasal dari berbagai organisasi pecinta alam di wilayah Jember, Banyuwangi, dan Bondowoso.

Baca Juga: Mitos Kunto Bimo Candi Borobudur, Sempat Bikin Pengunjung Rebutan Pegang Arca dalam Stupa hingga Dilarang Balai Konservasi

Rangkaian Kegiatan MBSC XXVI

MBSC XXVI dimulai dengan pelepasan peserta oleh Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri di kantor Balai TNMB.

Acara ini dilanjutkan dengan perjalanan ke Resort Sukamade untuk pembukaan resmi.

Peserta kemudian mengikuti serangkaian agenda edukatif yang berlangsung hingga hari Kamis, 2 Oktober, mencakup materi konservasi dari para ahli seperti ranger TNMB, akademisi, serta aktivis dari organisasi lingkungan seperti Birdpacker, Yayasan Sintas Indonesia, dan WALHI Jawa Timur.

Salah satu momen paling berkesan terjadi pada 1 Oktober, ketika peserta diajak mengamati proses penyu bertelur di pantai Sukamade.

Keesokan harinya, peserta turut melepas sekitar 550 tukik (anak penyu) ke laut lepas.

Baca Juga: Liburan ke Candi Borobudur di Magelang? Ingat, Dilarang Injak Stupa Ya! Ini 2 Alasannya Menurut Balai Konservasi

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X