SketsaNusantara.id - Di tengah arus globalisasi, pulau yang dikenal pulau dewata ini senantiasa tetap lestari budaya dan keindahannya.
Ada sebuah ungkapan menarik tentang pulau dewata ini, katanya ketika kaki kita sudah menginjak tanah Bali, rasa rindu dang ingin kembali akan selalu hadir. Ungkapan tersebut bukan sebuah isapan jempol belaka, hal ini dibuktikan dengan banyaknya wisatawan yang terus berkunjung ke Bali untuk kesekian kalinya.
Dilansir SketsaNusantara.id dari laman website Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng Bali, Tri Hita Karana merupakan sebuah konsep spiritual, kearifan lokal, sekaligus falsafah hidup masyarakat Hindu Bali yang bertujuan untuk membentuk keselasaran hidup manusia.
Menurut Undang-Undang Nomo 15 Tahun 2023, Karakteristik Pembangunan Bali didasari oleh Tri Hita Karana. Tri Hita Karana merupakan Filosofi masyarakat Bali mengenai tiga penyebab kebahagiaan, antara lain yaitu Parahyangan, Pawongan dan Palemahan.
Parahyangan
Parahyangan merupakan hubungan manusia dengan sang Pecipta Alam, yang diartikan bahwa manusia harus senantiasa tidak lepas dari sujud bakti kepada Tuhan, Sang Pencipta Alam Semesta beserta isinya. Contoh yang selama ini telah dilaksanakan yaitu perlindungan Pure, Pratima dan simbol keagaman.
Pawongan
Pawongan yang artinya hubungan atau interaksi manusia dengan sesamanya (manusia lain), manusia diharuskan membentuk interaksi yang selaras dengan manusia lainnya. Keselarasan hubungan tersebut dapat berupa hubungan dalam keluarga, hubungan dalam pertemanan, dan hubungan dalam pekerjaan.
Implementasi Pawongan yang telah dijalankan oleh masyarakat Bali yakni tercermin dari perekonomian adat bali dan rasa bangga menggunakan produk-produk Bali.
Palemahan
Palemahan adalah satu dari tiga konsep Tri Hita Kirana yang diartikan sebagai hubungan manusia dengan alam atau lingkungan tempat tinggal. Dalam hal ini termasuk tumbuh-tumbuhan, binatang dan hal-hal lain.
Implementasi Palemahan bisa dilihat dari program Bali pulau organik serta perlindungan danau, sungai dan matai air terlindungi. Bahkan yang terkenal adalah sistem Subak, yang masuk dalam warisan UNESCO.***
Artikel Terkait
Wisata Teluk Love di Jember, Teluk Berbentuk Hati di Area Pantai Payangan yang Cocok untuk Dikunjungi Pengantin Baru
Jember Mini Zoo, Wisata Edukasi dan Rekreasi Yang Cocok Sebagai Pengenalan Hewan Pada Anak
Jawa Timur Surganya Cagar Alam dan Suaka Margasatwa, Apa Sih Bedanya?
Bertahan Selama Berabad-abad, Ini Makna Piil Pesenggiri, Falsafah Hidup dan Harga Diri Masyarakat Lampung, Generasi Muda Wajib Tahu!
Disebut Kota Santri, Ini 5 Rekomendasi Kuliner Khas Jombang yang Wajib Dikunjungi
Rasakan Atmosfer Timur Tengah di Jantung Kota Jember, Ada yang Istimewa di Tempat Ini