Kamis, 4 Juni 2026

Lama Tak Muncul, Atiatul Muqtadir Eks BEM UGM Akhirnya Buka Suara: Soroti Warna Perlawanan dan Kreativitas Generasi Muda

Photo Author
Nurul Huda, Sketsa Nusantara
- Rabu, 3 September 2025 | 21:55 WIB
Fathur saat bermain tenis dengan semangat warna-warni perlawanan yang ia soroti dalam unggahannya.  (Instagram/fathuurr_)
Fathur saat bermain tenis dengan semangat warna-warni perlawanan yang ia soroti dalam unggahannya. (Instagram/fathuurr_)

 

SketsaNusantara.id – Atiatul Muqtadir atau yang akrab disapa Fathur, mantan Ketua BEM UGM sekaligus lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, kembali mencuri perhatian publik.

Namanya memang melambung sejak 2019, ketika ia tampil sebagai salah satu ikon gerakan mahasiswa yang lantang mengkritisi kebijakan pemerintah.

Dilansir SketsaNusantara.id dari unggahan terbarunya di Instagram @fathuurr_, Fathur memberikan pandangan segar tentang bentuk perlawanan masyarakat yang kian kreatif sekaligus menyentuh sisi personal kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Ferry Irwandi Bongkar Dalang di Balik Kericuhan Aksi Demo Agustus 2025, Siapa?

Dalam unggahan tersebut, Fathur menampilkan fotonya saat bermain tenis dengan nuansa warna berbeda dari biasanya. Namun yang menarik bukan sekadar aktivitas olahraga, melainkan pesan yang ia sertakan dalam caption.

“Tak pernah sedikitpun kepikiran, kalau warna perlawanan akan secerah ini. Kreativitas kawan-kawan untuk berinovasi pada simbol perlawanan ini patut diapresiasi,” tulisnya.

Menurut Fathur, simbol perlawanan tidak lagi melulu gelap, muram, atau identik dengan nuansa hitam, putih, dan merah. Kini, poster dan simbol perjuangan hadir dengan warna yang lebih cerah, seperti pink, hijau, dan biru.

Baca Juga: Catatan Kelam Indonesia! Ini Daftar Panjang 10 Korban Tewas Dalam Aksi Demo Akhir Agustus 2025

Warna-warna tersebut, menurutnya, bukan hanya estetika belaka, melainkan doa dan harapan. Ia menekankan bahwa di tengah kondisi bangsa yang penuh tantangan, masyarakat tetap tidak boleh berhenti berharap.

“Pink, hijau, biru.. warna-warna lucu kini akan menimbulkan kesan berbeda. Terutama bagi penguasa,” ungkapnya.

Lebih jauh, Fathur menyoroti kelompok masyarakat yang selama ini mungkin kurang diperhatikan dalam wacana politik: emak-emak dan para driver ojek online (ojol).

Ia menilai keberanian emak-emak yang langsung menyuarakan keresahan terkait pajak dan harga kebutuhan pokok justru menjadi representasi nyata penderitaan rakyat kecil.

“Yang diingat adalah emak-emak yang berani berhadap-hadapan. Ada yg menolak warna pink ini, tak setuju dengan kata-kata sang ibu. Padahal, lebih dari itu, aku melihat keresahan kaum yg paling merasakan ketika pajak dan harga bahan pokok dinaikkan,” tulisnya lagi.

Selain itu, Fathur juga menyinggung peran penting ojol sebagai kekuatan baru perlawanan rakyat. Ia menggambarkan bagaimana generasi muda dan kelompok pekerja informal kini mampu menguasai ruang digital, sehingga upaya pemerintah untuk menutupi isu dengan buzzer semakin sulit dilakukan.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X