SketsaNusantara.id – Memasuki pekan pertama Juli 2025, cuaca di Jember mulai menunjukkan perubahan signifikan.
Dilansir SketsaNusantara.id dari prakiraan BMKG, berkisar antara 16 – 269 mm untuk prediksi jumlah curah hujan untuk bulan Juli Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan April Tahun 2025 di wilayah Provinsi Jawa Timur.
Keadaan ini menjadi sinyal peringatan bagi masyarakat yang berada di lereng atau dekat sungai untuk lebih berhati-hati.
Lereng Pegunungan Argopuro, yang membentang di wilayah utara dan barat Kabupaten Jember, menyimpan potensi bencana yang cukup besar saat musim hujan tiba.
Kecamatan Panti dan Silo termasuk dalam kawasan yang kerap mengalami bencana longsor serta banjir bandang.
Kontur lereng yang curam, ditambah degradasi tutupan hutan akibat alih fungsi lahan, membuat daerah ini semakin rentan.
Sungai Kaliputih, yang berhulu di kawasan Panti, sering meluap saat hujan lebat turun di pegunungan.
Tahun sebelumnya, derasnya aliran air dari wilayah hulu menyebabkan banjir bandang yang menerjang Kemiri dan Suci.
Dilansir SketsaNusantara.id, menurut laporan BPBD Kabupaten Jember, material seperti lumpur, bebatuan, dan kayu gelondongan yang terbawa arus sungai memperburuk dampak banjir saat musim hujan.
Kondisi ekologis di kawasan hulu turut memperparah situasi. Ketiadaan reboisasi usai penebangan di kawasan hutan produksi berdampak langsung pada meningkatnya erosi.
Aktivitas pertanian intensif akibat alih fungsi lahan juga menyebabkan tanah kehilangan daya serap terhadap air.
Artikel Terkait
Jalan di Jalur Perlintasan Kereta Api Pecoro Terus Memakan Korban Kecelakaan! Komisi C DPRD Jember Desak BBPJN Segera Perbaiki
Museum Unik di Jember: Destinasi Edukatif Penuh Aroma yang Menyimpan Cerita Daun Emas dan Kreasi Inovatif
Udara Jember Masih Sehat, Ini Cara DLH Pantau Polusi dan Ajak Warga Ikut Menjaga Lingkungan Lebih Hijau
Warga Jember Ramai-Ramai Membersihkan Sampah yang Menumpuk di Pantai Watu Ulo: 'Nggak Tiba-Tiba Pantai Itu Bersih Se-estetik yang Kalian Kira'
Jember Semakin Kreatif di 2025: Musik, Batik, Kuliner, dan Wisata Dorong Ekonomi Lokal