Kamis, 4 Juni 2026

LDNU MWC Diwek Jombang Gelar Rutinan Ngaji Kitab Al- Muqtathofat, lkhtiar Kuatkan Pemahaman Amaliyah Nahdliyin

Photo Author
As'ad Choirudin, Sketsa Nusantara
- Kamis, 3 Juli 2025 | 07:45 WIB
Ustadz Muhyiddin saat membacakan materi dari kitab Al- Muqtathofat. (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)
Ustadz Muhyiddin saat membacakan materi dari kitab Al- Muqtathofat. (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)

Dia merasakan keanehan saat Nabi 'merayakan' kelahirannya dengan puasa sunnah, bahkan manusia sekarang biasa merayakan ulang tahun anak-anaknya. "Tetapi kita malah mempertanyakan dalil ketika merayakan hari lahir (maulud) Nabi Muhammad Saw," ujarnya penuh heran.

"Nahdliyin jangan sampai ikut-ikutan orang-orang yang membid'ahkan maulid Nabi," tegasnya.

Baca Juga: Puncak MTQ, Gelar Lailatul Qiro'ah, Pemenang Bakal Wakili Kecamatan Diwek Beradu di Kabupaten

Dalam suasana yang santai namun penuh makna, Ustadz Muhyiddin juga menyampaikan pentingnya menjauhi maksiat dalam keseharian. "Sampeyan mau ngopa-ngopi, tura-turu ya ora opo-opo, asal tidak maksiat," candanya, disambut tawa hadirin.

Mengenai hukum ziarah kubur, dia menegaskan bahwa larangan Nabi pada masa awal lebih karena konteks waktu itu yang rawan penyimpangan. Saat ini, menurutnya, ziarah kubur justru dianjurkan sebagai bentuk pengingat kematian dan penghormatan kepada orang saleh.

Terkait ziarah kubur, Nabi juga pernah melarangnya, tetapi itu karena dahulu ada indikasi adanya maksiat oleh para peziarah. "Tetapi sekarang sudah tidak, bahkan Nabi pun pernah mencontohkan ziarah kubur," pungkasnya.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X