Kamis, 4 Juni 2026

Publikasi Ilmiah di Indonesia Rentan Disalahgunakan, Ini Tantangan dan Solusinya bagi Akademisi

Photo Author
Shalsabilla Octania Liesandra, Sketsa Nusantara
- Rabu, 2 Juli 2025 | 21:00 WIB
Kegiatan pelatihan publikasi ilmiah di universitas untuk meningkatkan kualitas riset dan menghindari jurnal predator. (Pixabay/kreatikar)
Kegiatan pelatihan publikasi ilmiah di universitas untuk meningkatkan kualitas riset dan menghindari jurnal predator. (Pixabay/kreatikar)

Saat ini teknologi kecerdasan buatan atau biasa disebut dengan Artificial Intelligence (AI) sudah mulai digunakan untuk mendeteksi plagiarisme, kesamaan struktur artikel, hingga keterlibatan jurnal predator.

Beberapa universitas telah mengintegrasikan AI dalam proyek penelitian seperti Turnitin dan Grammarly Premium sebagai alat bantu utama dalam proses validasi karya ilmiah mahasiswa maupun dosen.

Di tengah pemanfaatan AI tersebut tentunya pihak universitas juga menanamkan pemahaman moral sebelum ke tahap penggunaan lebih lanjut.

Salah satunya seperti di Universitas Andalas (UNAND), pihak perpustakaannya telah sukses menggelar sosialisasi penggunaan Turnitin dan Grammarly di Fakultas Teknologi Pertanian.

Dilansir dari blog perpustakaan Unand, Dr. Yori Yuliandra selaku kepala perpustakaan UNAND (2025) mengatakan bahwa pihaknya berharap kegiatan ini dapat membantu dosen dalam mengoreksi karya ilmiah maupun tugas mahasiswa.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Dekan Fakultas Teknologi Pertanian, Dr.Ir. Alfi Asben, M.Si. yang sangat mendukung sosialisasi tersebut karena dapat membantu dosen dalam meningkatkan kualitas penulisan akademik.

Dengan adanya integrasi AI seperti Turnitin dan Grammarly, akan lebih memudahkan mendeteksi kesamaan teks serta dapat membantu penyempurnaan dalam penggunaan tata bahasa.

Harapan terhadap masa depan publikasi ilmiah Indonesia tetap tinggi, hal tersebut terlihat dari banyaknya peneliti muda yang kini mulai beralih pada jurnal terakreditasi nasional (SINTA Rank 1-2) hingga bereputasi internasional terindeks Scopus.

Platform lainnya yang berbasis komunitas seperti ResearchGate dan Google Scholar juga mampu mendukung sinergi antar-peneliti dalam membangun reputasi akademik global.

Langkah konkret lainnya datang dari inisiatif kampus dan lembaga independen yang mengadakan pelatihan menulis artikel ilmiah, seminar etik akademik, dan mentoring publikasi.

Meningkatkan kualitas publikasi ilmiah bukan hanya perihal menghindari jurnal predator, tetapi juga dengan membangun budaya ilmiah yang bersinergi dan mampu bersaing di kancah internasional.

Dengan adanya kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah dan komunitas akademik, harapannya potensi publikasi ilmiah Indonesia dalam peta riset dunia akan semakin besar dan menempati posisi yang strategis.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X