Kamis, 4 Juni 2026

Publikasi Ilmiah di Indonesia Rentan Disalahgunakan, Ini Tantangan dan Solusinya bagi Akademisi

Photo Author
Shalsabilla Octania Liesandra, Sketsa Nusantara
- Rabu, 2 Juli 2025 | 21:00 WIB
Kegiatan pelatihan publikasi ilmiah di universitas untuk meningkatkan kualitas riset dan menghindari jurnal predator. (Pixabay/kreatikar)
Kegiatan pelatihan publikasi ilmiah di universitas untuk meningkatkan kualitas riset dan menghindari jurnal predator. (Pixabay/kreatikar)

 

SketsaNusantara.id - Di era digital seperti sekarang, publikasi ilmiah menjadi indikator penting bagi kemajuan suatu negara dalam bidang pendidikan dan penelitian, khususnya di Indonesia.

Namun pada kenyataannya, publikasi ilmiah di Indonesia kini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari maraknya jurnal predator, tuntutan akademik yang tinggi, hingga rendahnya literasi digital dan etika ilmiah di kalangan peneliti muda.

Meningkatnya jumlah artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal predator adalah masalah yang sedang diperdebatkan.

Baca Juga: Isi Liburan Sekolah dengan Cek Universitas Terbaik di Jawa Timur, Rekomendasi Siswa yang Ingin Melanjutkan Pendidikan Perguruan Tinggi

Jurnal predator merupakan jurnal yang tidak melakukan proses review ketat, tetapi memungut biaya penerbitan dengan harga cukup fantastis.

Fenomena jurnal predator tidak hanya merugikan penulis secara finansial, tetapi juga merusak kredibilitas akademik peneliti dan institusi asalnya.

Bahkan berdasarkan laporan The Conversation (2024), terungkap bahwa 83,87% guru besar di Indonesia pernah mempublikasikan artikel di jurnal predator, baik secara sadar maupun tidak.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Gusti Irwan Wibowo, Musisi yang Tutup Usia Hari Ini: Riwayat Pendidikan hingga Punya Banyak Bakat Ini

Beberapa diantaranya mengaku terjebak karena kurangnya wawasan mengenai kriteria jurnal bereputasi.

Banyak akademisi yang merasa tertekan oleh sistem akademik yang mengharuskan publikasi sebagai syarat kenaikan pangkat atau kelulusan studi.

Menanggapi hal ini, pemerintah memberikan dukungan kepada universitas untuk meningkatkan pelatihan literasi digital dan etika publikasi ilmiah sedini mungkin.

Dikutip dari Kemdiktisaintek (2025), Dirjen Dikti menekankan pentingnya kurikulum berbasis integritas akademik yang berkelanjutan dan berorientasi pada kualitas bukan hanya sekedar kuantitas.

Solusi Peningkatan Kualitas Publikasi Ilmiah di Indonesia

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X