Disyon Toba mengaku pengadaan helikopter itu menghadapi hambatan serius terutama dalam hal perijinan pembangunan titik pendaratan atau helipad.
"Helikopter itu enggak perlu dibikinin helipad, bisa mendarat dimana saja asal rata sedikit. Tapi waktu itu izinnya sulit sekali," ujar Disyon Toba dilansir dari SketsaNusantara.id dikutip dari kanal YouTube KOMPASTV.
Hal itu dinilai membingungkan sebab helikopter jenis ini tak membutuhkan lahan khusus, bahkan bisa mendarat di area yang cukup rata.
Pada akhirnya regulasi yang sulit membuat pengadaan helikopter stanby di Rinjani tersebut akhirnya gagal terealisasi hingga saat ini.
Meski ia juga menekankan pelatihan dan pengenalan medan pada pilot sehingga harus banyak terbang disekitar Rinjani untuk mengenal medan lebih luas, jalur masuk dan jalur keluar yang aman.
"Sudah kecelakaan baru mau cari helikopter, ya susah, apalagi itu dipinggir tebing, sangat riskan," tambah Disyon Toba.
Disyon beranggapan bahwa kesiapsiagaan seperti ini sangat penting agar saat kecelakaan terjadi tim penyelamat tidak kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan medan yang ada.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Siapa Nama Lengkap Agam Rinjani? Ramai Warganet Brasil Soroti Tour Guide Asal Lombok yang Dianggap Jadi Pahlawan saat Evakuasi Juliana Marins
Ngeri! Foto Agam Rinjani dan 3 Relawan Tim SAR 'Nginep' di Tebing saat Evakuasi Pendaki Brasil Juliana Marins
Hasil Autopsi Jenazah Juliana Marins, Dokter Forensik Ungkap Penyebab Kematian Pendaki Brasil yang Jatuh di Gunung Rinjani
Hasil Autopsi Juliana Marins Korban Jatuh di Gunung Rinjani, Dokter Forensik Ungkap Waktu dan Meninggalnya Karena Apa
Kronologi Detik-Detik Juliana Marins Jatuh di Rinjani, Ali Mustofa Pemandu Gunung Ungkapkan Fakta yang Sebenarnya