SketsaNusantara.id - Kabupaten Pati kembali jadi sorotan netizen setelah beredar video yang memperlihatkan aksi memalukan dari Trio Srigala yang menarik erotis di Pendopo Kabupaten.
Dalam video yang menyebar luas di berbagai lini masa media sosial, 3 personel grup dangdut itu tampak bergoyang sensual di atas panggung yang berdiri di dalam Pendopo Kabupaten Pati.
Tak hanya itu, seorang pria terlihat memberikan saweran langsung saat penampilan berlangsung.
Reaksi publik pun membludak, terutama karena tempat aksi tersebut bukan sembarang tempat, melainkan bagian dari gedung pemerintahan.
Aksi ini bukan bagian dari konser terbuka, melainkan digelar dalam rangkaian acara resmi enyerahan badan hukum dan akta Koperasi Desa Merah Putih, Senin 9 Juni 2025.
Trio Srigala didatangkan sebagai hiburan bagi para pejabat dan pengurus koperasi usai agenda promosi pariwisata daerah.
Bupati Sudewo Minta Maaf dan Mengaku Terkejut
Ramainya kritik membuat Bupati Pati, Sudewo, akhirnya buka suara. Dalam sebuah video yang diunggah oleh akun Instagram @unvercover.id, ia menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat atas kejadian itu.
"Saya minta maaf atas atraksi yang dilakukan Tiga Serigala," ujar Sudewo.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak menyangka atraksi tersebut akan terjadi, apalagi di tempat seformal Pendopo Kabupaten.
"Atraksi itu spontan saya pun terkejut," lanjutnya.
Namun penjelasan itu belum cukup meredakan kemarahan warganet. Banyak yang mempertanyakan bagaimana acara resmi bisa melibatkan hiburan yang dinilai tak pantas.
Artikel Terkait
VIRAL! Desa di Pati ini Hanya Dihuni 4 Rumah Saja, Seluruh Warganya Pergi Karena...
Liburan Asyik Cuma 15 KM Setelah Pusat Kota Pati, Surga Alam Tersembunyi Bisa Jadi Pelarian Sempurna dari Kebisingan
Unik! Beda dari Palembang Apalagi Bangka, Inilah Empek-Empek Khas Pati yang Punya Cita Rasa Tersendiri dan Murah Meriah
Liburan ke Jepang Tanpa Paspor? Wisata di Pati Hadirkan Sakura, Kimono, dan Sentuhan Kejawen yang Memikat
Sajian Legendaris Pati dari Hutan Kemiri Warisan Para Petani saat Istirahat di Sawah, Konon Diolah karena Rakyat Jelata Tak Mampu Beli Daging