Dulu, rakyat Botubarani hidup sederhana sebagai nelayan. Namun kini mereka punya pemasukan tambahan dengan membuka wisata hiu paus.
Oleh sebab itulah para paus ini “ditahan” dengan diberi makan agar tidak bermigrasi.
Inilah yang jadi cikal bakal permasalahan wisata tersebut, baik bagi hiu paus maupun masyarakat Botubarani sendiri.
Sebetulnya, hiu paus bukanlah hewan jinak. Hanya saja, mereka sudah dikondisikan untuk terus diberi pakan hingga mengubah gaya berburu dan keseimbangan ekosistem mereka.
Pakan hiu paus yang berupa udang-udang pun bukan makanan alami yang biasa mereka makan.
Takutnya, ini bisa berdampak pada kesehatan hiu paus dalam jangka panjang meskipun risikonya belum diketahui saat ini.
Menurut Anandabhuwana, hendaknya sistem turisme yang mengandalkan pemberian makan ke hiu paus ini dihentikan.
Warga Gorontalo bisa mengadopsi sistem wisata hiu paus dari Australia saja, di mana ada regulasi ketat yang ditetapkan agar para pengunjung dengan jumlah terbatas tidak memberi makan, menyentuh, dan menjaga jarak.
Dengan begitu, keselamatan dan keseimbangan ekosistem hiu paus akan lebih terjaga tanpa mengorbankan sumber pencaharian masyarakat Botubarani. ***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Viral Suporter Indonesia Tak Tertib Naik Kereta di Jepang, Warganet Ingatkan Etika Transportasi Umum
Viral, Oknum Guru SMP di Demak Tendang Kepala Siswa 2 Kali hingga Lebam, Ternyata Cuma Gara-gara Siulan!
Viral Maher Zain Lewati Indonesia dalam Tur Asia Tenggara 2025, Kritik Terhadap Industri Konser Kembali Muncul
Viral Detik-Detik Mengerikan Kecelakaan Air India Flight AI 171 di Ahmedabad, Pesawat Jatuh Beberapa Detik Setelah Lepas Landas, Apa Penyebabnya?
5 Fakta Pernikahan Gus Azmi dengan Khansa Mariska, Diam-Diam Lamaran hingga Momen Akad Nikah yang Viral di Medsos