SketsaNusantara.id – Kebutuhan menu makanan bergizi menjadi prioritas program pemerintahan Parabowo – Gibran. Melalui program makan bergizi gratis (MBG), diharapkan masyarakat tidak ada lagi yang mengalami kekurangan gizi.
Untuk memenuhi bahan makanan bergizi, diharapkan semua sektor yang bergerak dalam bidang pangan mampu menambah produksinya. BRI sebagai lembaga keuangan siap mensupport program ini, salah satunya memberikan kemudahan masyarakat untuk mengakses pendanaan.
Di Jombang, salah satu mitra BRI adalah para peternak sapi perah. Agar produksi susu bisa stabil, para peternak membutuhkan dukungan pendanaan untuk menambah sapi-sapi tersebut.
Selain itu, pemberian pakan kualitas bagus merupakan salah satu faktor agar produksi susu tidak mengalami penurunan.
Baca Juga: Melalui KUR BRI, Petani di Jombang Mampu Kembangkan Usaha dengan Menyewakan Alsintan
Sriawan (62) salah seorang peternak sapi perah asal Dusun Segunung, Desa Carangwulung, Wonosalam, Jombang ini sejak 2010 sudah bermitra dengan BRI. “Waktu itu masih ada program KKPE (Kredit Ketahanan Pangan dan Energi),” kata Sriawan, akhir pekan lalu.
Program KKPE BRI yang ia terima saat itu sebesar Rp 40 juta. Oleh Sriawan, uang tersebut dibelikan 4 ekor sapi. “Saat itu harga per ekor sapi masih Rp 12 juta. Saya belikan 4 ekor sapi sehingga sapi saya menjadi 8 ekor,” ujarnya.
Dengan bertambahnya sapi perah yang ia rawat, tentu produksi susu yang didapat setiap harinya bertambah.
Program KKPE BRI yang diterima harus lunas dalam jangka waktu 3 kali angsuran selama 3 tahun. Di tahun 2013, ia kembali menerima KKPE BRI dengan nilai yang sama. Kala itu, Sriawan merealisasikan untuk pembangunan kendang ukuran 15 x 6 m. “Selebihnya juga untuk pembelian sebanyak 4 ekor sapi,” kata dia.
Baca Juga: Berkat Pinjaman BRI, Pengusaha Rice Huller Ini Produksi Beras Hingga 60 Ton per Hari
Sapi perah milik Sriawan menjadi 12 ekor. Dari sapi-sapi peliharaannya, kata dia, saat masa produksi, setiap sapi dapat memproduksi sebanyak 12 liter dalam sehari. “Harga susu sapi dari peternak ke pabrikan mendapat harga per liternya Rp7.100,” ungkapnya.
Dari pengolahan susu sapi tersebut, ia mampu bertahan untuk kebutuhan ekonomi keluarga dan kewajibannya sebagai penerima kredit dari bank.
Kemitraannya dengan BRI terus berlanjut. Pada tahun 2017, ia mendapat kucuran anggaran dari KUR sebesar Rp 50 juta. “Saya belikan tanah seluas 2.500 m2. Tanah tersebut juga untuk kebutuhan ternak sapi perah. Karena saya tanami rumput untuk pakan ternak,” ujar dia.
Tak berhenti di situ, setelah lunas pinjaman KUR, ia kembali mengajukan pinjaman serupa. Di tahun 2020 ia menerima KUR sebesar Rp 200 juta. Kali ini, digunakan untuk pengembangan KUD (koperasi unit desa).
Artikel Terkait
BRI Hadirkan Solusi Nyata Bagi UMKM, Platform LinkUMKM Jadi Jalan Jelita Mengembankan Usaha Makanan Sehat
Laba BRI Tembus Rp13,8 Triliun di Tengah Gejolak Global, UMKM Tetap Jadi Fokus Utama hingga Transaksi BRImo Naik Tajam
Kelola UMKM Mamin, Perangkat Desa ini Terima Keuntungan Tambahan dan Ciptakan Lapangan Pekerjaan