Minggu, 19 Juli 2026

Didukung BRI, Batik Colet Asal Jombang Tembus Pasar Internasional

Photo Author
As'ad Choirudin, Sketsa Nusantara
- Selasa, 29 April 2025 | 21:00 WIB
Karyawan Batik Colet sedang melakukan pewarnaan. (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)
Karyawan Batik Colet sedang melakukan pewarnaan. (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)

SketsaNusantara.id - Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Jombang semakin menunjukkan taringnya. Produk yang dihasilkan tidak hanya laku di pasar lokal, namun tembus hingga pasar internasional.

Salah satu contoh sukses adalah Batik Colet dari Dusun Pelem, Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Jombang. Sejak berdiri tahun 2008, pemasaran Batik Colet tersebut pernah menembus pasar internasional. Seperti Romania, Australia, Belanda, dan Jerman.

BRI memiliki andil besar berdirinya Batik Colet tersebut yang bertahan hingga kini.  

“Saya membuka usaha batik pertama kali karena dapat modal dari BRI sebesar Rp 3 juta di tahun 2008,” ungkap Sutrisno (57), pemilik Batik Colet kepada SketsaNusantara.id, Selasa 29 April 2025.

Baca Juga: Berawal dari Cinta Alam Bali, Bali Nature Menjadi Brand Global Berkat KUR BRI dan Pelatihan Ekspor UMKM

Sebelum membuka usaha batik, Sutrisno hanya sebatas karyawan biasa yang bekerja di salah satu UMKM batik yang ada di desanya. Diketahui, Desa Jatipelem merupakan sentra penghasil kain batik yang ada di Kabupaten Jombang.

Lama menjadi karyawan, akhirnya di tahun 2008 dia dikirim ke Balai Besar Batik Indonesia yang ada di Yogyakarta untuk mengikuti pelatihan membatik. Sepulang dari pelatihan itu, cerita Sutrisno, ia memberanikan untuk buka usaha sendiri.

Menurutnya, selama menjadi karyawan di galeri batik membuatnya banyak ilmu. Terlebih, kata dia, ilmu membatiknya tersebut semakin matang saat mengikuti pelatihan di Yogyakarta.

“Sepulang dari Yogyakarta akhirnya saya bertekad membuka usaha sendiri. Uang pinjaman dari BRI Rp 3 juta adalah modal awal saya buka usaha batik. Uang tersebut saya gunakan untuk membeli semua bahan yang dibutuhkan dalam membatik,” kata Sutrisno.

Baca Juga: Berkat Pinjaman BRI, Pengusaha Rice Huller Ini Produksi Beras Hingga 60 Ton per Hari

Sitrisno menambahkan, saat itu pinjaman yang diterima dari BRI kantor unit Perak.

Tiga tahun usaha batiknya berjalan, ia kembali mengajukan pinjaman ke BRI di tahun 2011. “Pinjaman kedua yang saya terima sebesar Rp 25 juta itu merupakan program KUR (kredit usaha rakyat). Saya buat untuk membangun galeri berukuran 3 x 5 meter,” kata pria berkacamata ini sambil menunjuk galeri yang ada di depan rumahnya.

Seperti terkena durian runtuh, tahun 2012 ia mendapat pesanan sebanyak 400 potong kain batik buatannya. Awalnya, secara tidak sengaja ia bertemu seorang teman yang merupakan anggota DPR RI di sebuah acara. “Saya bercerita kalau saya punya usaha pembuatan batik. Saat itulah dia memesan 400 potong kain batik untuk digunakan acara hari Koperasi yang diselenggarakan di Kabupaten Jombang,” ungkapnnya.

Karena merasa tidak bisa mengerjakan sendiri, ia lantas merekrut karyawan agar selesai tepat waktu.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X