SketsaNusantara.id - Suasana hangat terasa di Loji Gandrung, Solo, Sabtu 26 April 2025. Ratusan karya jurnalistik visual terpajang, menyita perhatian para pengunjung.
Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2025 menjadi panggung apresiasi tertinggi bagi jurnalis foto dari seluruh penjuru negeri. Tahun ini, sebanyak 2.500 karya dikirimkan.
IFG, Holding BUMN di sektor asuransi, penjaminan, dan investasi, hadir sebagai sponsor utama ajang bergengsi ini. Kehadiran IFG dinilai sebagai bentuk nyata dukungan terhadap dunia jurnalistik.
“Dukungan dan kerja sama rekan-rekan jurnalis turut membantu IFG dalam mengkomunikasikan perkembangan perusahaan secara positif kepada masyarakat,” ujar Corporate Communication IFG, I Gede Suhendra.
Menurut Suhendra, jurnalis foto telah menjadi mitra strategis dalam membangun komunikasi publik yang sehat dan kredibel. Tak hanya mencatat sejarah lewat lensa, mereka juga menyuarakan fakta yang sering luput dari sorotan.
“APFI 2025 menjadi wadah silaturahmi dan apresiasi bagi insan pers yang telah menjadi mitra strategis kami,” tambahnya.
Lebih dari sekadar menjadi ajang penghargaan, APFI adalah ruang refleksi akan pentingnya peran pewarta foto dalam demokrasi dan pembangunan bangsa. Dalam satu jepretan, ada kisah, harapan, dan peringatan yang mampu menggugah nurani publik.
Hal ini ditegaskan oleh Ketua Dewan Pers, Ninik Rahayu, dalam sambutannya yang penuh semangat. Ia menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Pewarta Foto Indonesia (PFI) atas konsistensinya dalam menjaga kualitas jurnalisme visual di tanah air.
“Kehadiran PFI bukan hanya mengenai jumlah orangnya, melainkan juga jumlah karya yang disumbangkan memang bisa dirasakan oleh masyarakat kita,” tuturnya.
Tak hanya itu, Ninik menyampaikan keyakinannya bahwa jurnalisme foto akan terus bertahan melampaui zaman.
“Saya ingin memberikan apresiasi tinggi kepada PFI yang telah merawat dan menjaga jurnalistik. Media dalam konteks ekonomi bisa saja hidup segan mati tak mau, tapi jurnalistik foto tidak akan pernah mati. Saya percaya,” tegasnya.
Artikel Terkait
Aktivis HAM Sumarsih Datangi Jurnalis Tempo yang Mendapat Teror Kepala Babi, Singgung Soal Teror Suara Kebenaran
2 Jurnalis Jadi Korban Kekerasan Aparat saat Meliput Aksi Demo di Sukabumi, Begini Respon AJI Bandung Biro Sukabumi
Ketua AJI Surabaya Kecam Tindakan Kekerasan oleh Aparat Terhadap 2 Wartawan yang Meliput Demo, Sebut Polisi Tak Paham Tugas Jurnalis
Aksi Demo Tolak UU TNI di Surabaya Chaos, Jurnalis Berita Jatim Alami Kekerasan Dari Polisi, Aktivis HAM Soroti 3 Hal Ini
PBNU Kecam Teror ke Tempo: Jurnalis Pilar Demokrasi, Pelaku Harus Ditindak