Kamis, 4 Juni 2026

12 Tahun Jadi Mantri BRI, Perjuangan Nuraini di Lombok Ini Tunjukkan Sosok Kartini Masa Kini yang Tak Takut Tantangan

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Selasa, 22 April 2025 | 10:39 WIB
Perjuangan Mantri perempuan BRI. (Dok. BRI)
Perjuangan Mantri perempuan BRI. (Dok. BRI)

SketsaNusantara.id - Hari Kartini bukan sekadar seremoni mengenang jasa pahlawan emansipasi perempuan. Di era modern, perjuangan itu terus hidup dalam diri perempuan-perempuan tangguh yang memilih jalan karier yang menantang namun berdampak nyata. Salah satunya adalah Nuraini.

Perempuan berusia 38 tahun ini telah mengabdikan diri sebagai Mantri BRI selama 12 tahun.

Ia bukan hanya pegawai bank yang bekerja menyalurkan kredit, tetapi juga penggerak ekonomi desa melalui pemberdayaan UMKM mikro.

Baca Juga: 14,4 Juta Perempuan Berdaya Lewat Holding Ultra Mikro BRI, Strategi Inklusif Ini Bukan Sekadar Simbol Hari Kartini

Eni, begitu ia akrab disapa, memulai kariernya di BRI sebagai customer service. Namun, ada kegelisahan yang membuatnya berani mengambil keputusan besar.

“Sebelumnya saya sempat kerja sebagai customer service selama 2 tahun, tetapi saya kurang puas dan tertantang. Sebaliknya, saya suka tantangan dan ketemu orang-orang baru,” ungkapnya.

Keputusannya pindah ke posisi Mantri BRI membawanya pada dunia yang penuh dinamika. Tugasnya bukan hanya mendistribusikan kredit mikro, tetapi juga terjun langsung ke lapangan, menyambangi nasabah hingga pelosok desa. Salah satu wilayah tugasnya adalah Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

Baca Juga: BRI Luncurkan Fitur Bilingual di BRImo, Solusi Digital Banking Inklusif Bagi Nasabah Domestik dan Internasional

Sebagai Mantri BRI, Eni aktif mendorong literasi digital. Ia rajin mengedukasi penggunaan QRIS dan mengajak nasabah mengenal produk-produk keuangan digital, termasuk AgenBRILink. Namun, kontribusi terbesarnya adalah pendampingan terhadap klaster UMKM gerabah yang tergabung dalam komunitas Creative Carving.

“Khusus di Desa Banyumulek, Kediri, Lombok Barat, hampir 90% mata pencaharian utama masyarakatnya adalah perajin gerabah. Kami sebagai Mantri BRI membantu permodalan, seperti memfasilitasi pinjaman KUR BRI dan memberikan pendampingan,” jelas Eni.

Gerabah-gerabah yang diproduksi di Banyumulek bahkan dipasarkan hingga ke Bali. Ini menunjukkan bahwa ekonomi desa bisa memiliki jangkauan yang luas jika diberi akses dan pendampingan yang tepat.

Dalam kesehariannya, Eni tak hanya dikenal sebagai petugas bank. Ia dianggap sebagai bagian dari keluarga oleh para nasabah. Hubungan yang terbangun bukan sekadar transaksional, tetapi emosional dan penuh kepercayaan.

Namun, tentu saja tak semua berjalan mulus. Ada tantangan besar yang harus ia hadapi.

Dukanya, menurut Eni, adalah ketika harus menghadapi nasabah yang menunggak atau gagal bayar angsuran. Meski demikian, semangatnya tak pernah surut. Ia percaya apa yang dilakukannya memiliki makna lebih besar daripada sekadar pekerjaan.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X