SketsaNusantara.id - Ketupat dan lepet selama ini identik dengan perayaan Idul fitri. Banyak yang meyakini bahwa ketupat bermakna "ngaku lepat" atau mengakui kesalahan, sementara lepet sering dikaitkan dengan "silep rapet," yang berarti menjaga kebersamaan.
Namun, sejarah justru menunjukkan bahwa kedua makanan tradisional ini telah ada jauh sebelum kedatangan Islam di Nusantara.
Sejarah mencatat bahwa istilah ketupat sudah disebutkan dalam beberapa naskah kuno dari periode Kerajaan Kadiri, yang berkembang pada abad ke-11 dan ke-12.
Kakawin Ramayana, Kakawin Subadra Wiwaha, dan Kakawin Krishna menyebutkan keberadaan ketupat, menunjukkan bahwa makanan ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Nusantara sejak lama.
Sementara itu, lepet ditemukan dalam Kakawin Korawasrama yang diduga berasal dari era Majapahit. Dengan demikian, ketupat dan lepet bukanlah kuliner yang muncul akibat pengaruh Islam, melainkan telah mengakar kuat dalam tradisi masyarakat Hindu-Buddha di Nusantara.
Salah satu fakta menarik yang jarang diketahui adalah kaitan ketupat dan lepet dengan Dewi Sri, dewi padi dan kesuburan dalam kepercayaan masyarakat Jawa kuno.
Pada masa klasik, ketupat sering digunakan sebagai sesajen dalam ritual pemujaan Dewi Sri. Masyarakat pada waktu itu menggantung ketupat di depan rumah sebagai penolak bala, sebuah tradisi yang mirip dengan penggunaan sesajen dalam berbagai ritual keagamaan.
Bentuk belah ketupat pada ketupat dipercaya melambangkan rahim, simbol kesuburan dan kehidupan.
Sementara itu, lepet yang terbuat dari beras ketan, parutan kelapa, serta kacang-kacangan merepresentasikan hasil bumi yang melimpah. Tak heran jika makanan ini sering disajikan dalam berbagai upacara adat yang bertujuan memohon berkah kesuburan dan panen yang melimpah kepada Dewi Sri.
Dalam kebudayaan Jawa dan Sunda, ketupat dan lepet tidak hanya disajikan saat Idulfitri, tetapi juga dalam berbagai ritual pertanian dan upacara adat lainnya. Misalnya, ketupat sering ditemukan dalam tradisi sedekah bumi, yang merupakan bentuk syukur kepada alam dan para leluhur atas hasil panen yang berlimpah.
Dengan memahami sejarah dan filosofi ketupat serta lepet, kita dapat melihat bahwa kedua makanan ini bukan sekadar pelengkap hidangan lebaran.
Artikel Terkait
Jelang Hari Raya Idul Fitri, Bupati Jember Cek Stabilitas Harga Pasar Tradisional dan Pusat Perbelanjaan
10 Link Poster Menunaikan Zakat Fitrah di Akhir Ramadhan 1446 H, Ayo Ciptakan dan Bagikan di Media Sosial Sebelum Idul Fitri Tiba
Gak Bakal Ditilang? Intip 8 Tips Mudik Aman untuk Para Pengendara Sepeda Motor, Ciptakan Nuansa Nyaman Jelang Idul Fitri di Perjalanan
10 Ucapan Idul Fitri 1446 H yang Penuh Doa dan Makna, Cocok untuk Keluarga dan Sahabat
8 GIF atau Gambar Bergerak Selamat Idul Fitri 1446 H, Ucapan Selamat Lebaran Paling Unik Masa Kini, Ada Ketupat Terbelah