Minggu, 19 Juli 2026

Berfungsi Sebagai Suguhan Pemujaan Dewi Sri, Inilah Fakta Mengejutkan Ketupat dan Lepet yang Tak ada Hubungannya Dengan Budaya Islam

Photo Author
Endang Hartatik, Sketsa Nusantara
- Jumat, 28 Maret 2025 | 22:59 WIB
Ketupat ada sejak zaman Majapahit  (Pixabay ignartonosbg)
Ketupat ada sejak zaman Majapahit (Pixabay ignartonosbg)

 

SketsaNusantara.idKetupat dan lepet selama ini identik dengan perayaan Idul fitri. Banyak yang meyakini bahwa ketupat bermakna "ngaku lepat" atau mengakui kesalahan, sementara lepet sering dikaitkan dengan "silep rapet," yang berarti menjaga kebersamaan.

Namun, sejarah justru menunjukkan bahwa kedua makanan tradisional ini telah ada jauh sebelum kedatangan Islam di Nusantara.

Sejarah mencatat bahwa istilah ketupat sudah disebutkan dalam beberapa naskah kuno dari periode Kerajaan Kadiri, yang berkembang pada abad ke-11 dan ke-12.

Baca Juga: 5 Contoh Jawaban Minal Aizin Wal Faizin Saat Silaturahmi Lebaran Idul Fitri, yang Benar Bukan Mohon Maaf Lahir dan Batin?

Kakawin Ramayana, Kakawin Subadra Wiwaha, dan Kakawin Krishna menyebutkan keberadaan ketupat, menunjukkan bahwa makanan ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Nusantara sejak lama.

Sementara itu, lepet ditemukan dalam Kakawin Korawasrama yang diduga berasal dari era Majapahit. Dengan demikian, ketupat dan lepet bukanlah kuliner yang muncul akibat pengaruh Islam, melainkan telah mengakar kuat dalam tradisi masyarakat Hindu-Buddha di Nusantara.

Salah satu fakta menarik yang jarang diketahui adalah kaitan ketupat dan lepet dengan Dewi Sri, dewi padi dan kesuburan dalam kepercayaan masyarakat Jawa kuno.

Baca Juga: 10 Link Twibbon Hari Raya Idul Fitri 2025 atau 1446 Hijiriah, Desain Islami dan Spesial untuk Rayakan Lebaran di Medsos Penuh Keceriaan

Pada masa klasik, ketupat sering digunakan sebagai sesajen dalam ritual pemujaan Dewi Sri. Masyarakat pada waktu itu menggantung ketupat di depan rumah sebagai penolak bala, sebuah tradisi yang mirip dengan penggunaan sesajen dalam berbagai ritual keagamaan.

Bentuk belah ketupat pada ketupat dipercaya melambangkan rahim, simbol kesuburan dan kehidupan.

Sementara itu, lepet yang terbuat dari beras ketan, parutan kelapa, serta kacang-kacangan merepresentasikan hasil bumi yang melimpah. Tak heran jika makanan ini sering disajikan dalam berbagai upacara adat yang bertujuan memohon berkah kesuburan dan panen yang melimpah kepada Dewi Sri.

Baca Juga: Kumpulan Quotes Lucu Lebaran Idul Fitri 1446 H, Cocok untuk Dikirim ke Keluarga atau Tetangga yang Rese

Dalam kebudayaan Jawa dan Sunda, ketupat dan lepet tidak hanya disajikan saat Idulfitri, tetapi juga dalam berbagai ritual pertanian dan upacara adat lainnya. Misalnya, ketupat sering ditemukan dalam tradisi sedekah bumi, yang merupakan bentuk syukur kepada alam dan para leluhur atas hasil panen yang berlimpah.

Dengan memahami sejarah dan filosofi ketupat serta lepet, kita dapat melihat bahwa kedua makanan ini bukan sekadar pelengkap hidangan lebaran.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: laman Buddazine.com.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X