SketsaNusantara.com - Menopause memang identik dengan masa di mana perempuan tidak lagi mengalami datang bulan. Rupanya, fase ini bukan hanya soal perubahan fisiologis, tetapi juga psikologis.
Jurnal penelitian SageChoice pada tahun 2023 menemukan bahwa perempuan yang memasuki maupun baru keluar dari masa menopause rentan mengalami depresi, baik bagi mereka yang punya riwayat depresi mayor maupun tidak.
Pada masa menjelang menopause hingga selama menopause, bisa terjadi berbagai perubahan psikologis pada wanita seperti mudah marah, sedih, cering cemas, merasa tidak berdaya hingga kesulitan berkonsentrasi.
Perubahan psikologis saat menjelang menopause yang juga umum dialami yaitu kelelahan serta tidak memiliki motivasi.
Utamanya, gejala-gejala tersebut timbul karena adanya perubahan hormon. Namun, masih ada beberapa faktor lain yang menyebabkan gangguan psikologis tersebut. Mari kita bahas satu per satu.
1. Perubahan Hormon
Mengutip dari laman resmi Siloam Hospitals, perubahan ini sebetulnya terjadi saat fase perimenopause (menjelang menopause).
Saat itu, jadwal menstruasi mulai berantakan, bisa jadi lebih panjang atau malah lebih pendek.
Menstruasi sendiri diatur oleh hormon yang mengontrol serotonin atau zat pengendali mood seseorang. Level serotonin yang tinggi dapat memicu perasaan senang.
Sebab itulah, jika hormon menstruasi turun, serotonin juga ikut turun. Akibatnya, perempuan yang serotoninnya rendah akan rentan memasuki episode depresi, terutama jika memang sudah punya riwayat penyakit tersebut.
2. Perubahan Hidup