Minggu, 19 Juli 2026

Apa Itu Preeklamsia? Waspada Komplikasi Kehamilan yang Diduga Jadi Penyebab RA Kartini Wafat, Ini Gejala dan Cara Pencegahannya

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Senin, 21 April 2025 | 09:30 WIB
Kenali gejala dan pencegahan peeklamsia yang diduga jadi penyebab kematian RA Kartini, komplikasi kehamilan yang berbahaya bagi kesehatan ibu dan bayi (pexels/stocksnap)
Kenali gejala dan pencegahan peeklamsia yang diduga jadi penyebab kematian RA Kartini, komplikasi kehamilan yang berbahaya bagi kesehatan ibu dan bayi (pexels/stocksnap)

SketsaNusantara.id - Bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini setiap tanggal 21 April sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan Raden Ajeng Kartini (RA Kartini) dalam memperjuangkan emansipasi perempuan.

Salah satu yang dikenang adalah kisah tragis wafatnya Kartini yang menjadi pengingat penting akan bahaya kesehatan yang bisa mengintai ibu hamil.

RA Kartini meninggal dunia dalam usia yang sangat muda, yakni 25 tahun, setelah melahirkan putra pertamanya, Raden Mas Soesalit. Berdasarkan sejumlah catatan sejarah, penyebab kematiannya diduga karena preeklamsia.

Baca Juga: Mengenal 3 Pahlawan Perempuan pada Tugu 3 Wanita Pejuang Jepara, Ada Patung RA Kartini yang Memegang Buku!

Lantas, apa itu Preeklamsia? Apa yang perlu diwaspadai dari penyakit ini bagi ibu hamil dan bagaimana cara pencegahannya?

Dilansir SketsaNusantara.id dari akun Instagram @kemenkes_ri, Preeklamsia adalah komplikasi kehamilan yang hingga kini masih menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

"Preeklamsia terjadi karena adanya kelainan pada plasenta yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah dan gangguan organ lainnya," tulis akun Instagram @kemenkes_ri dalam postingan yang diunggah pada 30 Agustus 2024.

Baca Juga: 8 Fakta Menarik RA Kartini: Pahlawan Emansipasi Wanita yang Menginspirasi Dunia, Ternyata Seorang Vegetarian dan Pernah Jadi Juru Dakwah Islam

Gangguan ini bisa terjadi biasanya setelah usia kehamilan 20 minggu, yang ditandai dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) dan kerusakan organ, paling sering pada ginjal dan hati.

Gejala umum meliputi pembengkakan di tangan, kaki hingga wajah, disertai sakit kepala parah, gangguan penglihatan, nyeri di perut bagian atas, bahkan memicu mual dan muntah yang tak biasa.

Beberapa faktor yang meningkatkan resiko preeklamsia adalah usia ibu yang terlalu muda atau terlalu tua, dengan kondisi kesehatan tertentu seperti tekanan darah tinggi atau diabetes.

Baca Juga: Amalan Agar Anak Sholeh dan Cerdas dari Ustadz Adi Hidayat Lakukan Ini Pada Masa Kehamilan

Kementerian Kesehatan RI menyebut Preeklamsia tidak hanya berdampak pada ibu, tetapi kondisi ini juga bisa memengaruhi kesehatan bayi di dalam kandungan.

Jika tidak ditangani dengan baik, preeklamsia dapat berkembang menjadi eklamsia yakni kondisi yang lebih parah dengan risiko kejang, stroke, hingga kematian.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: kemkes.go.id, Instagram @kemkes_ri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X