Selain itu, jangan lupa untuk selalu menggunakan alat pelindung seperti masker dan sarung tangan tebal saat membersihkan rumah agar terhindar dari kontak langsung dengan area yang terkontaminasi kotoran tikus.
Munculnya kasus di kapal pesiar menjadi pengingat bahwa penyakit zoonosis seperti hantavirus bisa muncul kapan saja dan di mana saja, bahkan dalam lingkungan yang terlihat bersih sekalipun.
"Sejauh ini, WHO menyatakan bahwa risiko kejadian ini secara global masih tergolong rendah. Tetapi, WHO akan terus memonitor situasi epidemiologi yang ada dan bukan tidak mungkin akan meninjau ulang tingkat risiko yang ada," ujar Prof. Tjandra.
"Hingga saat ini, belum ada pengobatan spesifik yang dapat menyembuhkan hantavirus. Oleh sebab itu, pencegahan menjadi langkah terbaik penyebaran virus, seperti menghindari kontak dengan tikus yang terinfeksi," pungkas Prof Tjandra.
Meski belum menjadi wabah besar di Indonesia, kewaspadaan tetap diperlukan. Dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari paparan hewan pengerat, risiko tertular hantavirus bisa ditekan secara signifikan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Sudah Masuk Indonesia, Apa Itu Virus HMPV? Ini Penyebab, Gejala hingga Pencegahan Penyakit yang Disebut Mirip Flu
Waspada Lonjakan COVID-19 di Asia, Kemenkes Terbitkan Surat Edaran Cegah Penyebaran di Indonesia
Kasus Covid-19 Naik Lagi di 2025, Menkes Sebut Varian Tidak Mematikan dan Masyarakat Diminta Tak Panik, Ini Penjelasannya
Heboh Virus Influenza H3N2 Masuk ke Indonesia, Menkes Sebut Superflu Tak Separah COVID-19, Masyarakat Diminta Tetap Waspada Jaga Kesehatan
Virus Nipah Ada Sejak 27 Tahun yang Lalu! Berikut Pengertian, Gejala dan Penularannya hingga Cara Pencegahannya...
Ngantuk Berlebihan Bisa Jadi Alarm Bahaya! Pakar Ingatkan Gejala Awal Virus Nipah yang Mematikan