SketsaNusantara.id - Belakangan ini, fenomena okultasi ramai diperbincangkan publik. Istilah "gerhana bintang" pun ikut mencuri perhatian karena terdengar unik sekaligus memunculkan rasa penasaran.
Observatorium Bosscha mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengamatan okultasi atau 'gerhana bintang', fenomena langit yang terbilang cukup langka dan bisa diamati dari langit Indonesia pada hari Sabtu, 26 April 2026.
Lantas, apa sebenarnya okultasi, dan apa tujuannya mengamati fenomena langit ini?
Baca Juga: Fakta Menarik Bulan Purnama Pertama di Tahun 2026, Kenapa Disebut Wolf Moon?
Dilansir SketsaNusantara.id dari laman resmi Observatorium Bosscha ITB Bandung, dijelaskan bahwa okultasi adalah fenomena astronomi ketika satu benda langit (seperti Bulan, planet, atau asteroid) melintas di depan benda langit lainnya (seperti bintang), sehingga menutupi sebagian atau seluruh cahaya benda yang lebih jauh tersebut dari sudut pandang pengamat di Bumi.
Fenomena ini sering disebut "gerhana bintang", yang membantu para pengamat astronomi dalam memahami sistem tata surya yang ada di luar angkasa.
Dalam dunia astronomi, okultasi adalah peristiwa ketika satu benda langit berada di depan benda langit lain yang posisinya lebih jauh, sehingga menutupi cahaya objek tersebut dari sudut pandang pengamat di Bumi. Fenomena ini bisa melibatkan berbagai objek, seperti Bulan, planet, hingga asteroid yang menutupi bintang.
Karena bintang yang tertutup tampak "menghilang" secara tiba-tiba, okultasi sering disebut sebagai "gerhana bintang". Berbeda dengan Gerhana Matahari yang melibatkan bayangan, okultasi terjadi karena penutupan langsung oleh objek yang berada di depannya.
Menariknya, fenomena okultasi yang terbilang cukup langka terjadi akhirnya dapat diamati dari langit Indonesia pada hari Sabtu, 26 April 2026.
Pada momen ini, sebuah objek langit seperti asteroid diprediksi akan melintas di depan bintang, sehingga cahayanya redup atau bahkan menghilang selama beberapa detik. Meski terbilang singkat, peristiwa ini sangat berharga bagi para ilmuwan.
Okultasi bukan sekadar tontonan langit, melainkan juga sarana penelitian penting. Melalui pengamatan ini, ilmuwan dapat mengukur ukuran dan bentuk benda langit dengan lebih akurat.
Misalnya, saat asteroid menutupi bintang, durasi tertutupnya cahaya bisa digunakan untuk menghitung dimensi asteroid tersebut, yang sering kali memiliki bentuk tidak beraturan. Selain itu, okultasi juga membantu dalam mempelajari atmosfer suatu objek.
Artikel Terkait
Apa itu Worm Blood Moon? Intip 5 Fakta Menarik Fenomena Langka Bulan Darah yang Bisa Dilihat di Indonesia saat Gerhana Bulan Total 14 Maret 2025
Unik, NASA Ungkap Terjadinya Fenomena Langka 'Smiley Face' yang Bisa Dilihat 25 April 2025, Penampakan dari Indonesia Bakal Jadi 'Sad Face'?
Heboh Fenomena Langit Merah Darah di Pandeglang Banten, Bikin Warga Resah hingga Dianggap Jadi Pertanda Datangnya Bencana, Begini Penjelasan BMKG
NASA Rilis Foto Perbandingan Bumi di Tahun 1969 dan 2026, Simak Perbedaan yang Mencolok Potret Bumi Dulu dan Sekarang
Kru Astronot yang Mengelilingi Bulan dalam Misi Artemis II Sudah Kembali ke Bumi, NASA: Mendarat di Perairan Lepas Pantai San Diego