“Temen gue ada kerja di BUMN, BUMD, di korporat. Sama kayak gitu juga. Yang karyawannya hampir ribuan, satu orang ngerjain 5 orang kerjaan juga,” tambahnya.
Menurut Abil, meskipun jam kerja formal hanya 8 jam sehari, beban pekerjaan yang tidak seimbang membuat karyawan terus berada dalam kondisi tertekan.
Salah satu bagian paling banyak dibahas adalah ketika Abil menyinggung masalah kemampuan antar-generasi. Ia menyampaikan kalimat yang langsung mewakili keresahan banyak pekerja muda.
“Gen Z itu gak punya soft skill. Yang komen boomer. Boomer gak punya hard skill,” ucapnya.
Abil mengkritik fenomena di mana generasi senior berada di posisi strategis namun kurang memahami aspek teknis yang relevan di era digital.
“Director IT, gak ngerti IT. Director Marketing gak ngerti sosmed,” ucapnya lagi.
Ia menambahkan contoh satir mengenai kebingungan eksekutif terhadap teknologi modern.
“Director IT itu kalo ngubah PDF ke Word tuh nyuruh orang. Kanva aja dibilang AI,” ucapnya.
Bagian ini kemudian viral karena relevan dengan pengalaman banyak karyawan yang berada di bawah kepemimpinan generasi yang lebih tua namun tidak adaptif terhadap teknologi.
Salah satu pesan inti yang disampaikan Abil adalah ajakan untuk introspeksi, terutama bagi para atasan. Ia menilai bahwa sebelum menyalahkan Gen Z, perusahaan perlu mengevaluasi cara mereka membina dan mendukung karyawan muda.
“Ketika Gen Z resign, apakah kita sudah benar? Apakah kita sudah memberi ruang untuk berkembang? Apakah kita bikin stress? Apakah arahan yang kita kasih udah jelas, benar?” tegasnya.
Fenomena mudahnya Gen Z berpindah kerja sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari perubahan budaya kerja global.
Saat ini, banyak dari mereka menempatkan kesehatan mental, keseimbangan hidup, dan kesempatan berkembang sebagai prioritas utama, bukan sekadar loyalitas tanpa imbal balik yang jelas.
Pandangan Abil memperkuat bahwa penyebab utama bukan semata-mata Gen Z tidak loyal, melainkan struktur organisasi, pola kepemimpinan, dan komunikasi antar-generasi yang belum selaras.
Ketika beban kerja tidak proporsional dan arahan tidak jelas, keputusan resign menjadi bentuk self-defense.***
Artikel Terkait
Benarkah Madu Lebih Baik dari Gula Pasir? Begini Penjelasan Ilmiah Denny Kristiawan Beberkan Kandungan Rahasia di Balik Madu
Kenapa Kopi Bisa Bikin Fokus Sekaligus Memicu Gangguan Kecemasan? Begini Penjelasan Ilmiah Menurut Penasihat Kesehatan Denny Kristiawan
Apakah Kentang Bisa Jadi Lebih Berbahaya jika Disimpan di Kulkas? Fakta Ilmiahnya Mengejutkan
Benarkah Biji Pepaya Layak Disebut Superfood? Mengungkap Manfaat, Risiko, dan Fakta Ilmiah yang Jarang Dibicarakan di Balik Tren Kesehatan di Medsos
Seberapa Aman Berlari dengan Heart Rate Tinggi Saat Race? Penjelasan Lengkap dari Unggahan dr. Tirta yang Ramai Dibahas Netizen