Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa efek tersebut membantu meredakan berbagai keluhan seperti rasa kaku, nyeri, hingga pembengkakan.
“Dingin dari kubis menenangkan saraf sensorik, sementara senyawa Isothiocyanates (ITCs) dan Indole-3-Carbinol (I3C) menekan jalur inflamasi,” sebutnya.
Dengan demikian, manfaatnya dapat dirasakan secara langsung melalui peningkatan aliran darah mikro, kelenturan fascia, dan rasa ringan pada otot.
Manfaat berikutnya dibahas khusus untuk ibu hamil dan menyusui. Kompres daun kubis dingin ternyata sudah digunakan secara medis untuk menangani breast engorgement atau pembengkakan payudara pasca persalinan.
Merujuk pada penelitian di Breastfeed Medicine tahun 2017 (PMID: 28941842), ia mengutip bahwa kompres daun kubis menurunkan nyeri dan kekerasan payudara tanpa menghambat produksi ASI.
Temuan ini penting, sebab masih banyak mitos yang menyatakan bahwa kompres kubis dapat menghentikan produksi ASI.
“Artinya, kubis tidak menghentikan ASI secara permanen, tapi menenangkan jaringan yang kongestif,” jelasnya.
Efek dingin menurunkan vasodilatasi sementara fitokimia kubis menekan inflamasi lokal. Kombinasi tersebut membuat proses menyusui, termasuk masa penyapihan, menjadi lebih nyaman bagi ibu.
Selain untuk ibu menyusui, manfaat daun kubis juga diteliti dalam konteks osteoartritis dan sendi bengkak.
Denny menyoroti riset dari Clinical Journal of Pain tahun 2016 (PMID: 26889617) yang menemukan bahwa bungkus daun kubis atau cabbage leaf wrap efektif menurunkan nyeri dan pembengkakan lutut pada pasien osteoartritis.
“Isothiocyanates menekan mediator inflamasi di sendi. Efek dingin mengurangi aliran darah berlebih,” kata Denny.
Efek gabungan tersebut membuat kompres kubis dapat memberikan rasa lebih ringan pada sendi, mengurangi nyeri, dan meningkatkan keleluasaan gerak.
Temuan ini menjadi bukti bahwa terapi sederhana dengan bahan dapur dapat memiliki efek biologis yang terukur.
Denny kemudian menutup edukasinya dengan mengoreksi salah satu mitos populer, yaitu klaim bahwa daun kubis mampu menyedot racun.
“Kubis bukan ‘menyedot racun’, tapi bekerja melalui tiga mekanisme biologis nyata,” ungkapnya.
Artikel Terkait
Jangan Dianggap Remeh! Simak 7 Bahaya Obesitas Bagi Kesehatan, Picu Gangguan Pencernaan hingga Sebabkan Serangan Jantung
Ramai Pembahasan Obesitas di Media Sosial, Begini Data dan Fakta Penting dari Organisasi Kesehatan Dunia!
Sering Tak Sadar Main HP Terlalu Lama? Waspadai Dampak Doomscrolling pada Kesehatan Mental
Cek Fakta: Benarkah Cabut Gigi Bisa Menyebabkan Kebutaan? Pakar Kesehatan Beberkan Fakta Mengerikan Akibat Infeksi Gigi yang Bisa Berakibat Fatal
Nathalie Holscher Jalani Operasi Bariatrik, Apa Itu? Berikut Penjelasan hingga Manfaatnya Bagi Kesehatan