Misalnya, sarapan dengan nasi goreng atau roti hanya bisa membuat kenyang selama 1–2 jam.
Setelah itu, rasa lapar akan kembali karena kadar gula darah yang naik-turun drastis memicu hormon lapar (ghrelin) untuk kembali aktif.
Hal ini menyebabkan kebiasaan makan terus-menerus sepanjang hari, yang oleh Felix disebut sebagai "manusia pemamah biak".
Berbeda dengan karbohidrat, makanan tinggi protein dan lemak seperti telur dan daging dapat memicu hormon kenyang seperti Cholecystokinin dan Peptide YY.
Hormon-hormon ini bekerja lebih efektif untuk menjaga rasa kenyang lebih lama. Felix bahkan mengaku bahwa dengan sarapan tiga butir telur bebek, ia bisa tahan kenyang hingga siang hari tanpa ngemil atau makan tambahan.
Selain dampak langsung terhadap rasa lapar, Felix juga mengaitkan konsumsi karbohidrat dan gula berlebih dengan lonjakan penyakit kronis seperti obesitas, diabetes, dan hipertensi.
Ia menyebut bahwa dalam sebuah studi di Bali, satu dari empat remaja Indonesia ditemukan dalam kondisi prediabetes atau sudah menderita diabetes.
Jika remaja saja sudah mengalami hal tersebut, maka tidak mengherankan jika orang dewasa diperkirakan lebih dari 50 persen berisiko serupa.
Dampaknya tidak hanya terasa pada kesehatan individu, tapi juga pada sistem layanan kesehatan nasional.
"Wajar BPJS kita bangkrut," kata Felix, merujuk pada pembengkakan biaya akibat perawatan penyakit tidak menular (non-communicable diseases) yang sebagian besar berakar dari pola makan tidak sehat.
Felix juga menyinggung soal fenomena FOMO (fear of missing out) yang sering dijadikan alasan oleh anak muda untuk menikmati semua jenis makanan tanpa batas.
Padahal, data dari seorang dokter spesialis ginjal di Universitas Sumatera Utara menunjukkan bahwa pasien-pasien yang menjalani cuci darah kini semakin muda, bahkan di usia 20–30 tahun.
Menurutnya, kita saat ini hidup di lingkungan makanan yang ekstrem. Sekitar 95 hingga 99 persen produk di minimarket mengandung gula dalam berbagai bentuk, baik yang terlihat maupun tersembunyi. Dalam kondisi ini, mengambil keputusan ekstrem dalam memilih makanan adalah hal yang masuk akal.
Namun, Felix tidak serta-merta melarang konsumsi gula dan karbohidrat. Ia justru menganjurkan untuk menyesuaikan asupan sesuai kebutuhan fisik.
Ketika sedang aktif berolahraga atau beraktivitas fisik berat, tubuh memang membutuhkan lebih banyak karbohidrat. Tetapi saat aktivitas sedang ringan, ia menyarankan untuk mengurangi asupan karbohidrat dan memperbanyak protein serta serat.
Artikel Terkait
Paket Nasi Murah Meriah Cuma Rp 4 Ribu: Ini Resto di Jogja yang Sajikan Kuliner Enak dengan Harga Terjangkau
Dari Nasi hingga Sambal: Berikut 5 Makanan Tradisional Jawa Kuno yang Masih Ada hingga Kini
Bak Kode Keras, Ari Lasso Beneran Pacari Dearly Djoshua? Netizen Heboh: Yang Kemarin Suka Kirim Sop Buntut dan Nasi Campur
Masakan Tradisional Pati yang Rasanya Mirip Gulai tapi Tanpa Nasi, Favorit Petani hingga Pejabat
Pecinta Pedas Wajib Coba! Nasi Tempe Semangit Khas Jontro Pati Ini Bisa Bikin Keringat Deras dan Lidah Goyang