SketsaNusantara.id – Limbah dapur seperti kulit buah sering kali dibuang begitu saja tanpa dimanfaatkan.
Padahal, menurut berbagai studi dan komunitas lingkungan, kulit buah dan sayur dapat diolah menjadi cairan serbaguna yang disebut ekoenzim. Selain ramah lingkungan, cairan ini juga berpotensi menggantikan berbagai produk pembersih kimia di rumah.
Ekoenzim adalah cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah, sayuran, gula merah atau bisa juga molase, dan air.
Baca Juga: 7 Cara Membuat Pupuk Cair dari Limbah Dapur, Alternatif Murah dan Ramah Lingkungan
Fermentasi ini menghasilkan cairan berwarna cokelat gelap yang mengandung enzim, alkohol alami, asam organik, dan mikroorganisme yang baik.
Mengutip panduan dari Yayasan Eko Enzim Indonesia (ekoenzym.id), cairan ini telah dimanfaatkan di berbagai negara sebagai pembersih lantai, pestisida organik, hingga pupuk cair. Proses pembuatannya pun terbilang mudah dan dapat dilakukan di rumah.
Cara Membuat Ekoenzim
Berikut langkah-langkah pembuatan ekoenzim skala rumah tangga:
1. Siapkan bahan dalam perbandingan 1:3:10, yakni:
1 bagian gula merah atau molase
3 bagian limbah organik (kulit buah/sayur)
10 bagian air
2. Masukkan semua bahan ke dalam wadah plastik bertutup.
3. Diamkan untuk menjalani fermentasi selama 90 hari (3 bulan) di tempat sejuk dan tidak terkena sinar matahari langsung.
Baca Juga: BRI Gencarkan Aksi Nyata Hadapi Darurat Sampah Plastik, Targetkan Nol Limbah ke TPA
4. Buka tutup setiap 3–5 hari pada bulan pertama untuk melepaskan gas hasil fermentasi.
Artikel Terkait
Dinas PUPR Jombang Normalisasi Sungai Akibat Limbah Industri Pengolahan Tahu di Sumbermulyo Jogoroto
3 Mahasiswa UNISNU Jepara Tawarkan Konsep Pengolahan Limbah Kayu Jadi Energi Hijau, Sukses Raih Gelar Runner-Up di Business Plan Competition di UNS
Ratusan Warga Pesisir Pantai Selatan Protes Soal Limbah Tambak Udang, Wakil Ketua DPRD Jember: Banyak Persoalan yang Terungkap
DAS Glondong Banyuwangi Darurat Limbah, PLHK Universitas Jember Tawarkan Solusi ke Pemerintah Daerah
Menilik Cerita Dibalik Sate Kere, Makanan Khas Nusantara Hasil Limbah Rumah Jagal di Zaman Hindia Belanda