SketsaNusantara.id - Selain rambutnya yang gondrong, Gus Miftah juga mudah dikenali dari blangkon yang biasa digunakannya.
Mantan Utusan Khusus Presiden itu selalu mengenakannya saat pengajian dan momen-momen tertentu. Seolah, penutup kepala itu sudah menjadi bagian dari dirinya.
Blangkon tentunya bukan benda yang asing bagi masyarakat Jawa, khususnya kaum pria. Di wilayah Yogyakarta dan Surakarta, penutup kepala ini bahkan kerap jadi oleh-oleh khas bagi wisatawan.
Sejarah Islam di Nusantara juga mencatat blangkon sebagai salah satu identitas khas dari Sunan Kalijaga, salah satu anggota Wali Songo, penyebar Islam di Pulau Jawa.
Sunan Kalijaga dikenal sebagai salah satu wali yang menggunakan pendekatan akulturasi budaya dalam berdakwah, termasuk dalam cara berbusana.
Ia mengenakan pakaian tradisional Jawa seperti blangkon, surjan, dan jarik, sehingga tampak menyatu dengan masyarakat setempat.
Dengan mengenakan busana khas Jawa, ia berhasil mendekati masyarakat tanpa terlihat sebagai tokoh asing atau memaksakan budaya luar.
Pendekatan ini membuat dakwahnya lebih diterima, karena masyarakat merasa dihargai dan tradisi lokal tetap dilestarikan.
Dilansir SketsaNusantara.id dari unggahan akun Instagram @syiarbudayaislam, benda ini bukan sekadar penutup kepala bagi pria Jawa karena ada makna dan filosofi mendalam.
Blangkon adalah penutup kepala dari batik yang biasanya digunakan pria untuk menyempurnakan busana tradisional Jawa.
Penutup kepala ini merupakan hasil modifikasi dari ikat kepala atau udeng. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa blangkon adalah hasil asimilasi budaya Hindu dan Islam.