Disebutkan bahwa blangkon dipakai sebagai wujud pengendalian diri dari hal-hal negatif seperti luapan emosi dan amarah.
Di masa lalu, diyakini bahwa kepala adalah simbol yang sangat penting dan wajib dilindungi. Apalagi di masa itu kebanyakan pria Jawa berambut panjang dan harus diikat dengan kain.
Para pria Jawa di masa tersebut hanya menggerai rambut saat di rumah atau ketika menghadapi perkelahian.
Oleh karena itu, membuka ikatan kepala atau blangkon dapat dimaknai sebagai luapan emosi atau batas akhir pengendalian diri.
Dengan demikian, memakai blangkon sebetulnya bukan sekadar fesyen atau gaya berpakaian. Justru penutup kepala yang ikonik ini menyimpan makna pengendalian diri atau peringatan untuk bersikap lembut.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Heboh Habib Jafar Mendadak Dinotice Partai Gerindra di Instagram, Bikin Netizen Curiga, Bakal Gantikan Gus Miftah Jadi Utusan Khusus Presiden?
Sempat Sebut Tempat Pengajian Kandang Kebo! Satu Persatu Jejak Kontroversi Gus Miftah Mulai Terungkap, Sudah Sering Berlaku Tidak Sopan?
Sempat Tak Mau Berkomentar, Deddy Corbuzier Ungkap Fakta di Balik Pengunduran Diri Gus Miftah
Deddy Corbuzier Sebut Gus Miftah Bersalah dan Setuju Mundur dari Jabatan Utusan Khusus Presiden: Tetep Aja Beliau Salah
Miris, Lucky Hakim Ikut Prihatin dengan Kebiasaan Gus Miftah yang Kerap Berkata Kasar saat Berdakwah: Sudah Jadi Bahasa Sehari-hari