SketsaNusantara.id - Kehidupan keluarga para jenderal korban Gerakan 30 September 1965 atau G30S PKI berubah drastis sejak peristiwa keji tersebut.
Trauma, penyesalan dan amarah menjadi makanan sehari-hari selama puluhan tahun.
Itulah yang juga dirasakan Catherine Pandjaitan, anak sulung Mayor Jenderal TNI (anumerta) Donald Izacus Pandjaitan.
Catherine muda yang baru sebulan pindah sekeluarga dari Eropa harus melihat ayahnya yang tewas secara tragis di tangan bangsa yang baru ia kenal tersebut.
Trauma Catherine membawanya bolak-balik ke psikiater hingga ia ‘diungsikan’ ke Jerman.
Dalam acara Simposiun Nasional ‘Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan’ tahun 2016, Catherine mengungkapkan bagaimana kondisinya pasca insiden tersebut.
“Nangis aja, mau bunuh dirilah, minum obat tidurlah,” ucapnya seperti dikutip SketsaNusantara.id dari video yang diunggah kanal YouTube SPASI tanggal 22 September 2020.
Psikiater yang menanganinya meminta Catherine pindah dari rumah tempat sang ayah dibunuh.
Oleh ibunya, ia pun ‘dititipkan’ ke keluarganya yang akan dikirim ke Jenewa, Umaryadi.
Selama di Eropa, ia mengaku cukup lama enggan pulang ke Indonesia.