SketsaNusantara.id - Peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang didalangi Partai Komunis Indonesia (PKI) menorehkan luka dan trauma yang cukup dalam bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Trauma hingga penyesalan berkepanjangan juga turut menghantui hidup banyak anak-anak para jenderal korban G30S PKI.
Penyesalan itu bahkan masih dirasakan oleh Catherine Pandjaitan, anak pertama Mayjen D.I Pandjaitan.
Peristiwa yang merenggut nyawa sang ayah di depan matanya meninggalkan penyesalan yang sangat mendalam.
Hal itu diungkap Catherine dalam acara Simposium Nasional ‘Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan’ pada 2016 lalu.
Dalam video yang diunggah kanal YouTube SPASI tanggal 22 September 2020, Catherine mengungkapkan sejumlah penyesalannya.
Satu di antaranya yakni saat detik-detik jelang sang ayah dihabisi oleh pasukan Cakrabhirawa.
Penyesalan itu muncul usai rekonstruksi yang digelar beberapa tahun setelah peristiwa mengerikan tersebut terjadi.
Dari rekonstruksi tersebut, Catherine mengetahui bahwa pasukan Cakrabhirawa hanya ditugaskan untuk menangkap jenderal dari pukul 03.30-04.30.
“Mereka ditugaskan setengah empat sampai setengah lima, setengah lima bapak jenderal dapat atau tidak dapat, harus bubar,” ujar Catherine sebagaimana dilansir SketsaNusantara.id.