Salah satu aspek yang paling menarik dari Pararaton adalah cara penulisannya yang mencerminkan pandangan dan kepentingan politik pada masa itu.
Misalnya, penekanan pada legitimasi kekuasaan raja melalui garis keturunan ilahi sering kali digunakan untuk memperkuat posisi mereka.
Dalam kitab ini diceritakan awal mula berdirinya Kerajaan Singasari yang dipimpin oleh Ken Arok yang dimulai dengan kisah tragis dan memakan banyak korban.
Kisah dimulai dari Ken Arok yang melarikan Ken Dedes yang kemudian dilanjut dengan kisah pembunuhan Tunggul Ametung dengan menggunakan Keris Empu Gandring oleh Ken Arok.
Sehingga pembunuhan ini kemudian menjadi kutukan kepada anak cucu Ken Arok dimana 7 raja disebutkan akan mati karena keris Empu Gandring.
Kitab Pararaton juga berisi tentang kisah Kerajaan Majapahit dan patih terkenal yakni Patih Gajah Mada dan perang Bubat yang berawal dari keinginan Majapahit untuk membawa pulang putri Sunda namun ditolak oleh Raja Sunda sehingga terjadilah perang Bubat.
Peranan Kitab Pararaton dalam sejarah Nusantara
Kitab Pararaton oleh sejarawan dianggap tidak hanya berfungsi sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai alat legitimasi bagi penguasa yang berkuasa pada waktu itu.
Kitab ini menjadi sangat relevan untuk memahami dinamika kekuasaan dan legitimasi di Kerajaan Singasari dan Majapahit.
Selain itu, kitab ini juga memberikan wawasan tentang budaya dan nilai-nilai masyarakat pada masa itu, termasuk pandangan mereka terhadap kekuasaan dan ketuhanan.
Secara keseluruhan, Kitab Pararaton adalah dokumen yang kaya akan informasi sejarah.
Meskipun diwarnai oleh elemen-elemen yang kontroversial dan mitologis namun juga miliki peran penting sebagai salah satu sumber utama untuk mempelajari sejarah Indonesia, terutama pada masa Singasari dan Majapahit.***