jelajah

Kitab yang Ditulis pada Abad 16 Ini Menjadi Kontroversi, Terkenal Sebagai Kitab Raja-Raja Singasari hingga Majapahit

Selasa, 24 September 2024 | 21:34 WIB
Ilustrasi Manuskrip Kitab Pararaton (Tangkapan layar YouTube TaksakaSeta )

SketsaNusanatara.id - Pada abad ke 16 diceritakan dalam sejarah terdapat satu kitab yang menjadi kontroversi dari era Singasari hingga Majapahit yakni Kitab Pararaton.

Dalam Kitab Pararaton tertulis cerita Ken Arok dan raja-raja Singasari serta Majapahit, namun keakuratan kitab ini sering dipertanyakan banyak pihak.

Kitab Pararaton, yang juga dikenal sebagai "Kitab Raja-Raja," merupakan salah satu sumber sejarah yang sangat penting namun juga terbilang kontroversial dan kerap menajdi bahan perdebatan sejarawan seperti dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube TaksakaSeta.

Baca Juga: Fungsi Kolam Segaran pada Masa Kerajaan Majapahit Masih Ada pada Masa Lalu, Salah Satunya untuk Menyambut Tamu Asing?

Sehingga dari fakta ini kemudian timbul satu pertanyaan apakah Kitab Pararaton hanya merupakan mitos atau justru sebaliknya menyimpan fakta sejarah yang terlupakan.

Sejarah dan kontroversi Kitab Pararaton 

Kitab Pararaton merupakan manuskrip kuno yang ditulis pada 1535 Saja 1613 M atau pada abad ke 16 dan banyak berkisah tentang Ken Arok. Kitab ini ditulis dalam bahasa Jawa Kawi dan berisi catatan mengenai sejarah, mitologi, serta biografi para raja yang memerintah di kedua kerajaan tersebut.

Pararaton mencakup periode yang luas, mulai dari era Kediri, melalui Tumapel-Singasari, hingga ke masa Majapahit. Kitab ini sering dianggap sebagai sumber yang tidak sepenuhnya objektif, karena mengandung elemen-elemen yang bersifat legendaris dan mitologis.

Baca Juga: Relief Unik Candi Rimbi di Jombang Ini Konon Gambarkan Tempat Pendermaan Ratu Majapahit, Ternyata Begini Kondisinya Sekarang...

Misalnya, kisah tentang Ken Arok, pendiri Kerajaan Singasari, yang digambarkan sebagai anak dari Dewa Brahma, menunjukkan bagaimana mitos dan sejarah sering kali saling terkait dalam narasi ini.

Tujuan dari adanya Kitab Pararaton ini sama seperti Babad Tanah Jawi yaitu untuk melegitimasi kekuasaan dimana raja-raja sering menggambarkan dirinya reinkarnasi dari dewa-dewa dengan harapan rakyat akan tunduk patuh kepadanya.

Isi dan Struktur Kitab Pararaton 

Kitab ini terdiri dari 32 halaman dan mencakup 1.126 bait yang menceritakan berbagai peristiwa penting, termasuk konflik, intrik politik, dan kisah-kisah heroik para raja.

Baca Juga: Peradaban Trowulan Sampai ke Kalimantan Barat? Misterius, Ini Asal Usul Peninggalan Kerajaan Majapahit di Luar Pulau Jawa

Halaman:

Tags

Terkini