Sebagai bukti kebenaran keberadaan kapal Djong/Jung raksasa ini ada beberapa catatan kuno tentangnya, yakni:
• Prasasti Sembiran menyebutkan bahwa para pedagang datang ke Bali dengan menggunakan Djong/Jung.
• Sedangkan Jung dalam sastra disebutkan pada sastra Bomantaka tertanggal akhir abad ke 12 Masehi.
• Istilah Jung juga digunakan dalam catatan perjalanan rahib Ibnu Batutah, Giovanni De'Marignolli dan Odorico Da Pordenone. Mereka berlayar di Nusantara pada awal abad ke 14.
• Claudius Ptolemaeus seorang astronom Yunani yang menyebutkan kapal dari Nusantara Kolandiaphonta yang berarti kapal dari Sumatera atau Jawa.
• Anthony Reid dalam bukunya Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, yang menyebutkan bahwa layar Jung terbuat dari tikar tenunan yang diperkuat dengan bambu.
• Tom Pires yang merupakan pelaut Portugis pada abd ke 15 dalam bukunya The Summa Oriental of Tome Pures : An Account of The East, From The Red Sea to Japan menyebutkan bahwa kapal Portugis ynag telah berhasil berlayar ke Eropa dibuat kerdil oleh kapal Jung Jawa.
Baca Juga: Dimulai Dengan Melawan Ayahnya! Benarkah Kesultanan Demak Runtuh Oleh Konflik di Dalam Kerajaan?
• Diego de Couto dalam bukunya Da Asia 1645 menyebutkan bahwa orang-orang Jawa telah berlayar dari Tanjung Harapan dan mengadakan hubungan dengan Madagaskar dan ini pula yang menguatkan teori bahwa orang-orang Madagaskar merupakan keturunan Nusantara.
Tom Pires menyebutkan bahwa kapal terbesar di Malaka pada abad 1511 terlihat tak sebanding bila disandingkan dengan Jung Jawa.
Sedangkan Sejarawan Irwan Djoko Nugroho dalam bukunya, Majapahit Peradaban Maritim, memperkirakan ukuran Jung Jawa dimensi besarnya 4 sampai 5 kali dari kapal Flor De La Mar atau Flower of Sea yang dibuat oleh Lisbon Portugal yang tenggelam beserta harta karunnya di area Sumatera Utara atau Selat Malaka.
Spesifiknya, kapal Portugis yang tenggelam memiliki panjang 69-78,3 meter maka Jung Jawa diperkirakan memiliki panjang 313,2 hingga 391,5 meter.