SketsaNusantara.id - Sekitar pada era tahun 1500-an merupakan era di mana orang-orang Jawa dikenal sebagai penguasa Asia Tenggara, terdapat cerita tentang kapal raksasa bernama Djong/Jung Jawa.
Pada saat itu Nusantara menguasai jalur rempah mulai dari Maluku, Jawa dan Malaka sehingga Malaka kemudian menjadi pusat perdagangan yang sangat masyhur ke seluruh dunia.
Demi berpusatnya kawasan dagang serta ekspansi kawasan dagang itulah yang mendorong masyarakat Jawa untuk terus mengembangkan kapal-kapal besar hingga terciptalah Kapal Djong atau Jung Jawa.
Baca Juga: Kerajaan Kristen Ada di Wilayah Timur Nusantara, Bagaimana Ajarannya Bisa Sampai ke Pulau Jawa?
Artinya sebelum nama-nama penjelajah seperti Colombus, Marcopolo, Ferdinand Magelan serta Vasco de Gama atau Laksamana Cheng Ho, penjelajah Nusantara sudah lebih unggul melintasi sepertiga bola dunia dan orang-orangnya merupakan ahli navigasi.
Djong, juga dikenal sebagai jong atau jung, adalah kapal layar kuno yang berasal dari Jawa di mana Jung sendiri jika diartikan merupakan kata 'kapal'.
Jung Jawa digunakan secara luas oleh pelaut Jawa dan Sunda, terutama pada masa kejayaan kerajaan seperti Majapahit dan Kesultanan Demak
Baca Juga: 4 Kerajaan Kristen yang Pernah Ada di Nusantara: Muncul Karena Pengaruh Kedatangan Portugis?
Kapal Jung memiliki desain yang unik dan kuat, memungkinkan untuk berlayar di lautan luas. Pada masa lalu, kapal ini tidak hanya digunakan untuk perdagangan, tetapi juga untuk pertempuran laut.
Jung Jawa menjadi simbol kekuatan maritim Nusantara, dan perannya sangat penting dalam menguasai jalur perdagangan di Asia Tenggara
Sebelum teknologi pelayaran dikuasai oleh Eropa, banyak orang yang tak percaya bahwa pada masa lalu, Nusantara telah memiliki teknologi perkapalan yang menakjubkan.
Dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Angelic Vaulina, pada abad ke 8 Nusantara telah berhasil membuat kapal raksasa terbesar dalam sejarah dunia yakni kapal/Jung Jawa.
Kapal raksasa atau disebut sebagi Djong atau Jung ini konon terbuat dari kayu jati dan digunakan untuk keperluan dagang menjelajah Nusantara. Hal ini tertulis dalam prasasti Sembiran pada tahun 1065 Masehi.