Soekarno, Agus Salim, Semaoen, dan Muso adalah sebagian murid-muridnya yang menimba ilmu di rumahnya.
HOS Tjokroaminoto bahkan rela menjadikan kediamannya sebagai tempat tinggal dan diskusi bagi para muridnya, membekali mereka dengan ilmu dan semangat perjuangan.
Ia tidak hanya melahirkan pemikir besar, tetapi juga mengubah arah pergerakan nasional.
Dengan berani, ia mengecam kolonialisme dan kapitalisme di hadapan Volksraad (Dewan Rakyat Hindia), menuntut kemerdekaan bagi rakyat Indonesia.
Baca Juga: 8 Raja di Kerajaan Sunda yang Memiliki Gelar Prabu Siliwangi: Salah Satunya Memimpin sampai 1 Abad?
Meski risikonya tinggi, HOS Tjokroaminoto terus menyuarakan kebebasan dengan lantang.
Sayangnya, Tjokroaminoto tidak sempat menyaksikan kemerdekaan Indonesia yang ia perjuangkan sepanjang hidupnya.
Ia menghembuskan napas terakhirnya pada tahun 1934. Namun, warisannya terus hidup melalui murid-muridnya.
Soekarno, murid kesayangannya, pada akhirnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, sebelas tahun setelah wafatnya sang guru.
Sebagai bentuk penghormatan, pada tahun 1961, Soekarno menetapkan HOS Tjokroaminoto sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Tjokroaminoto mungkin telah tiada, namun gagasannya tentang kebebasan dan kemandirian bangsa tetap hidup dalam perjuangan rakyat Indonesia.
Ia adalah mentor bagi para pejuang besar yang ideologinya membentuk fondasi kemerdekaan Indonesia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!