SketsaNusantara.id- Setelah kepergian Raden Wijaya pada tahun 1309 M, Majapahit memasuki babak baru di bawah kepemimpinan putranya, Jayanegara.
Dinobatkan sebagai Raja kedua Majapahit dengan gelar Sri Sundarapandya Dewadhiswara Wikramottungadewa, Jayanegara membawa harapan untuk melanjutkan kejayaan ayahnya.
Ia merupakan hasil pernikahan Raden Wijaya dengan Dara Petak, seorang putri dari Kerajaan Melayu Dharmasraya di Sumatera.
Namun, pemerintahan Jayanegara justru penuh dengan kekacauan, pemberontakan, dan akhirnya, pengkhianatan.
Seperti dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Kitab Mawas Diri, selama berkuasa dari 1309 hingga 1328 M, Majapahit justru diguncang oleh serangkaian pemberontakan.
Banyak petinggi kerajaan merasa tidak puas karena Jayanegara dianggap sebagai keturunan dari luar tanah Jawa, yakni Melayu.
Akibatnya, kerajaannya sering dilanda pergolakan.
Beberapa pemberontakan besar yang terjadi di antaranya adalah pemberontakan Gajah Biru (1314), Nambi (1316), Ra Semi (1318), dan Ra Kuti (1319).
Bahkan, pemberontakan Ra Kuti berhasil merebut ibu kota Majapahit, dan nyawa Jayanegara nyaris melayang.
Di balik semua kekacauan ini, terselip tokoh licik bernama Mahapati Halayudha, seorang pejabat tinggi yang dikenal gemar memecah belah melalui fitnah dan adu domba.