Perubahan besar terjadi ketika Batari Hyang naik tahta dan mengubah kebataraan ini menjadi kerajaan yang sah.
Selain prasasti, bukti sejarah Kerajaan Galunggung juga ditemukan dalam naskah "Amanat Galunggung," yang menyebutkan ajaran-ajaran suci yang dipertahankan di wilayah tersebut.
Ajaran ini, termasuk Sang Hyang Siksakanda ng Karesian, menjadi landasan moral dan spiritual yang bahkan diadopsi oleh Prabu Siliwangi, penguasa Pakuan Pajajaran, pada abad ke-15.
Ajaran ini terus hidup dalam kehidupan masyarakat hingga beberapa abad setelahnya.
Walaupun Kerajaan Galunggung memiliki otonomi, ia tetap berada di bawah naungan Kerajaan Sunda.
Sistem pemerintahan yang diterapkan di Sunda bersifat federal, dengan kerajaan-kerajaan daerah yang tetap tunduk pada otoritas Tohaan di Sunda, atau Raja Sunda.
Hal ini diceritakan dalam naskah kuno "Bujangga Manik," yang mengisahkan perjalanan spiritual seorang tokoh melewati berbagai wilayah Sunda, termasuk Galunggung.
Saat pengaruh Islam mulai menyebar pada abad ke-17, Kerajaan Galunggung menghadapi perubahan besar.
Pusat kekuasaan berpindah ke wilayah Pamijahan, di mana Syekh Abdul Muhyi, seorang ulama terkemuka, menjadi pemimpin spiritual.
Meski kerajaan secara fisik tidak lagi berdiri, jejak-jejak sejarahnya masih tertinggal di Tasikmalaya, mengingatkan kita akan kebesaran Kerajaan Galunggung yang pernah jaya.
Hingga kini, sejarah Kerajaan Galunggung tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Tasikmalaya, menyimpan cerita tentang kekuatan spiritual, kebijaksanaan, dan kebesaran yang pernah memancar dari lereng Gunung Galunggung.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!