Tak hanya di Eropa, media di Asia, seperti The Manila Times di Filipina, juga memberi perhatian besar.
Pada 2 Oktober 1965, mereka menulis tajuk utama "Kudeta Terhadap Soekarno Gagal".
Baca Juga: Lama Tak Kelihatan, Amien Rais Kena Skak Mahfud MD Gara-Gara Jualan Isu PKI
Presiden Filipina saat itu, Diosdado Macapagal, bahkan mengirimkan pesan langsung kepada Soekarno yang dipublikasikan pada 8 Oktober.
Menyatakan dukungan dan kelegaan bahwa Soekarno dalam keadaan baik.
Kemudian, pada Oktober 1965, media Filipina juga melaporkan pelarangan PKI sebagai kemenangan atas kejahatan.
Namun, berbeda dengan media kapitalis yang lebih fokus pada aspek-aspek politik, media di negara-negara komunis pada tahun 1967 menekankan bahwa G30S hanyalah konflik internal di Angkatan Darat dan bukan gerakan yang didalangi PKI.
Bahkan, pers Soviet dengan tegas mengutuk kemunculan Orde Baru di Indonesia.
Nugroho Notosusanto, seorang sejarawan Indonesia, mengkritik beberapa akademisi Barat seperti Dr. Justus M. van der Kroef.
Baca Juga: Benarkah Komunis Itu Jahat? Inilah Alasan di Balik Masyarakat Indonesia yang Sangat Membenci PKI
Pasalnya, ia menulis bahwa tujuan utama G30S adalah untuk menghancurkan struktur komando Angkatan Darat dan membentuk pemerintahan rakyat ala komunis.
Meski beberapa analisis dianggap masuk akal, banyak yang dirasa kurang memahami situasi sebenarnya di Indonesia.
Selain itu, berbagai tulisan dari peneliti lain seperti John O. Sutter dan John Hughes juga menjadi sorotan.
Meski dianggap menarik, banyak di antaranya yang dikritik Nugroho karena terlalu menyoroti korban-korban tanpa melihat latar belakang yang lebih mendalam.