Dukungan dari kerajaan-kerajaan kecil yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Pajajaran mulai memudar, dan posisi kerajaan semakin terjepit.
Serangan kedua datang saat Prabu Nilakendra memimpin kerajaan pada tahun 1551 Masehi hingga 1567 Masehi.
Dalam serangan itu, pasukan Banten berhasil memaksa raja melarikan diri dari ibu kota dan menyelamatkan diri ke wilayah Sukabumi Selatan.
Namun, serangan ketiga di bawah pimpinan Maulana Yusuf pada 1579 benar-benar menghancurkan segalanya.
Ibu kota Dayeuh Pakuan jatuh, dan Prabu Ragamulya Suryakancana, raja terakhir Pajajaran, tewas di tangan pasukan Banten setelah mengungsi ke Pulasari, Pandeglang.
Runtuhnya Pajajaran bukan sekadar kekalahan militer. Keruntuhan ini juga mengubur banyak nilai budaya dan warisan sejarah Sunda kuno yang selama ini dijaga dengan teguh.
Namun, meski kerajaan telah lenyap, semangat dan kebanggaan akan budaya Sunda tetap hidup.
Warisan Pajajaran masih terus dipelihara melalui cerita rakyat, seni, dan adat istiadat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pajajaran mungkin telah runtuh secara fisik, tetapi kebesarannya tetap abadi dalam ingatan sejarah.
Hubungan emosional antara masyarakat Sunda dan warisan Pajajaran bahkan terus terasa hingga kini, terutama di Bali.
Banyak yang masih mengunjungi situs-situs peninggalan kerajaan sebagai bentuk penghormatan terhadap nenek moyang mereka.
Runtuhnya Pajajaran menjadi pengingat akan pentingnya menjaga dan menghargai warisan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa, agar kejayaan masa lalu tak pernah benar-benar dilupakan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!