Ia mendeklarasikan kemerdekaan Kerajaan Galuh, memisahkan diri dari Tarumanagara yang saat itu telah berubah nama menjadi Kerajaan Sunda.
Dengan Sungai Citarum sebagai batas, wilayah Tarumanagara dibagi dua.
Tarusbawa menguasai bagian barat, sementara Wretikandayun memimpin wilayah timur yang menjadi Kerajaan Galuh.
Tahun 670 M dianggap sebagai awal dari kedaulatan penuh Kerajaan Galuh.
Selama 90 tahun kepemimpinannya, seperti yang tercatat dalam naskah Carita Parahiyangan, Wretikandayun berhasil membangun fondasi yang kuat untuk kerajaan yang terus berkembang pesat.
Pengaruh Kerajaan Galuh semakin meluas ketika putra mahkota, Rahyang Mandiminyak, menikahi Dewi Parwati, putri Ratu Sima dari Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah.
Pernikahan ini menjadi aliansi strategis yang memperkuat hubungan antar kerajaan.
Pada tahun 702 M, Mandiminyak naik takhta menggantikan Wretikandayun, menjadikannya penguasa di dua wilayah besar, Galuh dan Kalingga.
Di bawah kepemimpinan Mandiminyak, Kerajaan Galuh mencapai puncak kejayaannya.
Wilayah kekuasaannya meluas dari timur Sungai Citarum hingga Hujung Galuh, yang kini dikenal sebagai Surabaya.
Hubungan erat dengan kerajaan lain, termasuk melalui pernikahan, menjadikan Kerajaan Galuh sebagai kekuatan besar yang mempengaruhi dinamika politik di Nusantara.
Era kejayaan ini menjadi warisan abadi Sang Wretikandayun yang berhasil membawa Kerajaan Galuh menuju kemerdekaan dan kejayaan yang gemilang.***