Jumat, 3 Juli 2026

Dikenal sebagai Kerajaan Hindu Terakhir dari Pulau Jawa dan Nusantara, Inilah Sejarah Kerajaan Blambangan

Photo Author
Fadillah Nuzulul Rahman, Sketsa Nusantara
- Kamis, 5 September 2024 | 12:00 WIB
Kerajaan Blambangan menganut ajaran Hindu terakhir di Nusantara. (X/ @_iamrobot_)
Kerajaan Blambangan menganut ajaran Hindu terakhir di Nusantara. (X/ @_iamrobot_)

 

SketsaNusantara.idBlambangan muncul sebagai kisah yang menakjubkan.

Kali ini, kita akan menggali lebih dalam mengenai Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa, yang pernah menjadi kekuatan penting.

Blambangan, terletak di ujung timur Pulau Jawa, dulunya meliputi wilayah dari Lumajang di selatan hingga Panarukan di utara, seperti dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube LINTASAN FAKTA.

Wilayah ini, yang dikelilingi lautan, memiliki posisi strategis dengan pelabuhan penting seperti Panarukan, yang menjadi pusat transit utama kapal-kapal perdagangan rempah.

Baca Juga: Pemandian Tak Pernah Kering, Candi Umbul di Magelang Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Pada masa kejayaannya, Blambangan merupakan bagian dari Majapahit, namun penaklukan oleh Majapahit tidak mudah.

Raden Wijaya, pendiri Majapahit, menghadapi perlawanan keras dari Adipati Wiraraja, penguasa Blambangan, yang akhirnya tetap sebagai daerah otonom hingga masa-masa berikutnya.

Pada abad ke-15, Blambangan menjadi tempat pelarian Kertabumi setelah kehancuran Trowulan.

Baca Juga: Lokasi Kerajaan Tertua di Nusantara Ini Menjadi Kawasan IKN, Seperti Menghidupkan Kejayaan Masa Lalu

Pendirian kerajaan Blambangan oleh Lembu Miranda, putra Brawijaya, menandai awal dari periode pemerintahan Hindu di wilayah ini.

Memasuki abad ke-16, Blambangan di bawah kepemimpinan Bima Koncar menghadapi ancaman dari kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak.

Meskipun mengalami berbagai serangan, Blambangan berhasil mempertahankan wilayahnya dalam beberapa periode.

Baca Juga: Mengungkap Jejak Kerajaan Mataram Kuno di Situs Liyangan Purbosari Temanggung, Konon Pernah Luluh Lantak Karena Letusan Gunung Sindoro

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X