Dilansir SketsaNusantara.id dari p2k.stekom.ac.id, selama periode G30S PKI pada tahun 1965, candi ini mengalami perusakan lebih lanjut karena dianggap sebagai tempat yang digunakan untuk praktik-praktik mistis yang dianggap bertentangan dengan kepercayaan masyarakat saat itu.
Beberapa batu bata candi bahkan dicuri untuk digunakan dalam pembangunan rumah warga setempat, sementara patung Durga bersenjata empat yang ditemukan di area ini kini menjadi koleksi Museum Nasional di Jakarta.
Meskipun demikian, Candi Deres masih menyimpan potensi besar sebagai situs warisan sejarah dan budaya.
Keberadaan candi ini tidak hanya penting untuk memahami sejarah lokal Jember, tetapi juga untuk mengenal lebih jauh tentang perjalanan peradaban Nusantara.
Bagi para sejarawan dan arkeolog, reruntuhan ini adalah saksi bisu dari masa lalu yang dapat menjadi bahan kajian berharga dalam mempelajari budaya dan peradaban Jawa Timur.
Upaya pelestarian Candi Deres saat ini dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember bersama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPBD).
Sebagian artefak yang ditemukan di sekitar lokasi candi telah disimpan di gudang penyimpanan benda cagar budaya di Jember untuk melindungi dari kerusakan lebih lanjut.
Namun, tanpa perhatian yang serius dari berbagai pihak, situs bersejarah ini bisa benar-benar hilang dari peta kebudayaan Indonesia.
Mengunjungi Candi Deres hari ini merupakan sebuah perjalanan melintasi waktu, menyelami jejak-jejak sejarah yang tersembunyi di balik reruntuhan dan akar pohon beringin yang mencengkeram erat.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!