Untuk itu ketika Sultan Hamengkubuwono III yang merupakan ayahanda Pangeran Diponegoro wafat dan digantikan Sultan Hamengkubuwono IV yang masih terbilang anak-anak, maka ia melihat peluang bahwa inilah saatnya ia menunjukkan sifat sebenarnya.
Peluang Sumodipuro menunjukkan dirinya semakin terbuka lebar ketika Pangeran Diponegoro lebih suka hidup di luar istana daripada di dalam istana.
Ketidakhadiran Pangeran Diponegoro di dalam istana membuat Sumodirejo menjadi bebas melakukan apapun yang dia mau termasuk membuat kebijakan-kebijakan yang merugikan rakyat.
Sumodirejo juga kemudian bergaul akrab dengan kolonial dan mencari perlindungan dari mereka dan menjadi antek kolonial untuk membuktikan kekuatannya.
Perlahan Sumodirejo menjadi sosok yang memuakkan masyarakat karena ia menjadi antek kolonial yang ikut menyengsarakan rakyat.
Untuk itu kemudian Sumodipuro mendapat julukan setan klambi manungso atau setan berbaju manusia karena ia menjema menajdi sosok yang dinilai rusak oleh masyarakat karena merampok rakyat sambil duduk manis di singgasananya.
Sampai kemudian Pangeran Diponegoro mendengar semua tindak tanduknya, dan puncaknya ketika Sumodipuro mengambil pajak dari masyarakat tanpa sepengetahuannya.
Pada satu kesempatan Sumodipuro dipanggil menghadap bersama Hamengkubuwono IV dan sejumlah pejabat untuk meminta pertanggungjawaban Sumodirejo, namun ia mengelak hingga menyebabkan Pengeran Diponegoro murka.
Pangeran Diponegoro berdiri lalu melepaskan alas kakinya dan memukulkan pada wajah dan kepalanya. Dan apa yang dilakukan Pangeran Diponegoro ini menjadi dendam kuat baginya untuk menuntut balas.
Sampai akhirnya meletuslah perang Diponegoro, sebuah perang antara Pangeran Diponegoro dengan kolonial beserta keluarga kerajaan yang berkhianat padanya.
Penghianat-penghianat yang bergabung dengan kolonial itu tak lepas dari peran Sumodipuro yang ingin menuntut balas pada Pangeran Diponegoro.***