Buku karangan Mohamad Roem dan diterbitkan oleh Gramedia (1982) itu menyebutkan bahwa ‘bisikan’ tersebut yang mendorong banyak strategi politik Sultan Hamengkubuwono IX.
Menurutnya, bisikan tersebut berasal dari mendiang ayahnya, Sultan Hamengkubuwono VIII.
Bahkan bisikan tersebut menjadi salah satu alasan perubahan sikap Sultan Hamengkubuwono IX saat hendak menandatangani perjanjian antara Keraton Yogyakarta dengan Belanda.
Sultan yang saat muda bernama GRM Dorojatun ini awalnya cukup sulit untuk diajak bekerja sama tiba-tiba mengiyakan segala keputusan kepada Belanda.
Ia merubah sikapnya setelah mendapatkan ‘bisikan’ tentang kepergian Belanda sebagaimana dikutip SketsaNusantara.id dari situs Keraton Yogyakarta.
Baca Juga: Makam Ki Ageng Jejer Guru Sultan Agung: Tidak Mewah, tapi Jadi Pusat Peziarah Masyarakat di Bantul?
Masyarakat juga percaya bahwa Sultan Hamengkubuwono IX sudah mengetahui Indonesia akan merdeka dari bisikan tersebut.
Dan benar saja, pada tahun 1942 Jepang datang dan mengusir Belanda sertselang 3 tahun setelah itu Indonesia meraih kemerdekaannya.
***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!